Riwayat Singkat Nabi Muhammad saw.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,kali ini saya akan membahas mengenai sejarah singkatnya Nabi Allah Muhammad saw. yang selalu kita nantikan syafaatnya di yaumil akhir aamiin aamiin Ya rabbal Alamin

 1. Nama : Muhammad 

 2. Ayah : Abdullah bin Abdul Muthalib 

3. Ibu : Aminah binti Wahab 

4. Kelahiran : Makkah, Sabtu 17 Rabiul Awal, Tahun 

Gajah 

5. Wafat : Senin, 28 Safar 11 H 

6. Makam : Madinah Al-Munawwarah


Sejarah nabi Muhammad SAW dari lahir hingga wafat

Satu-satunya rasul Allah yang diutus untuk semua ras dan golongan adalah

nabi Muhammad saw. Karena itu ajarannya sangat universal; tidak hanya tentang

ibadah dan keakhiratan, namun juga urusan-urusan diniawi yang mencakup semua

sisi kehidupan manusia, mulai dari masalah makan hingga urusan kenegaraan.

Namun demikian, masih banyak orang yang buta terhadap pribadi dan kehidupan

beliau. Akibatnya, mereka terhalang untuk melihat dan merasakan kebenaran yang

dibawanya. Pada lembaran ini penulis mencoba memperkenalkan Nabi Muhammad

saw secara singkat dari beberapa sisi, dengan harapan dapat bermanfaat dan

membantu kita semua.

1. Nama dan Gelar Nabi Muhammad Saw

Antara lain seperti disebutkan di dalam HR Bukhari dan Muslim: Ahmad, Mahi, Hasyir,

‘Aqib, Muqaffi, Nabiyyuttaubah, Nabiyyurrahmah.

2. Nasab Nabi Muhammad Saw

Di dalam buku Shahih Bukhari bab Mab’ats an-Nabiyyi saw, Imam Bukhari merincikan

silsilah nasab Nabi Muhammad saw sebagai berikut: Muhammad saw bin Abdullah bin

Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qusyai bin Kilab bin Murrah bin

Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin

Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin Adnan.

Imam Bukhari menambahkan di dalam Kitab Tarikh al-Kabir: Adnan bin Udud bin Al-

Maqum bin Nahur bin Tarh bin Ya’rab bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim. Menurut para

pakar – sebagaimana yang disebutkan oleh sejarawan Syekh Abdurrahman bin Yahya

Al-Yamany –antara Adnan dan Ismail ada sekitar 40 kakek.

3. Kelahirannya

Nabi Muhammad saw lahir di Makkah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun

Gajah dalam keadaan yatim. Penamaan tahun Gajah berkaitan dengan peristiwa

pasukan Gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman yang ingin

menghancurkan Ka’bah. Namun sebelum sampai ke kota Makkah, mereka diserang

oleh pasukan burung yang membawa batu-batu kerikil panas (lihat QS Al-Fil: 1-5).

Kelahiran nabi Muhammad saw bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi.

4. Masa Menyusui

Nabi Muhammad saw pertama kalinya disusui oleh ibunya Aminah dan Tsuwaibatul

Aslamiyah. Namun itu hanya beberapa hari. Selanjutnya beliau disusui oleh Halimah

As-Sa’diyah di perkampungan bani Sa’ad. Muhammad saw tinggal bersama keluarga

Halimah selama kurang lebih empat tahun.

Di akhir masa pengasuhan keluarga Halimah ini terjadi pembedahan nabi Muhammad

saw.

5. Muhammad Saw di Mata Penduduk Makkah

Sejak kecil Muhammad saw jauh dari tradisi-tradisi jahiliyah dan tidak pernah

melakukan penyembahan terhadap tuhan berhala. Namun demikian beliau tetaplah

seorang yang santun dan jujur, karenanya beliau terkenal dengan gelar Al-Amien

(orang yang terpercaya).

6. Pernikahan Nabi Muhammad Saw

Pada usia yang ke-25 tahun, Muhammad saw menikah dengan Khadijah binti

Khuwailid, seorang janda kaya berusia 40 tahun. Pernikahan ini diawali dengan

lamaran Khadijah kepada Muhammad saw setelah melihat dan mendengar kelebihan-

kelebihan dan akhlaknya.

7. Isteri-isteri Rasulullah Muhammad saw

Selain Khadijah, isteri-isteri beliau adalah: Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu

Bakar, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah (Hindun binti

Umayyah), Zainab binti Zahsy, Juwairiyah binti Al-Harits, Ummu Habibah (Ramlah),

Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti Al-Harits dan Maria Al-Qibtiyah. Nabi

Muhammad menikahi mereka semua setelah Khadijah meninggal dunia. Dan mereka

semua beliau nikahi dalam keadaan janda, kecuali Aisyah ra. Jika dilihat dari faktor

tiap pernikahan beliau, semuanya mempunyai hubungan yang kuat dengan dakwah

dan ajaran Islam yang dibawanya.

8. Anak dan Putrinya

Anak dan putri nabi Muhammad saw adalah: Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu

Kultsum, Fathimah, Abdullah dan Ibrahim. Mereka semua lahir dari rahim Khadijah

kecuali Ibrahim dari Maria Al-Qibtiah.

Anak-anak beliau yang laki-laki semuanya meninggal sebelum usia dewasa.

9. Muhammad Saw Menjadi Rasul Allah

Turunnya wahyu pertama QS. Al-A’la: 1-5 di gua Hira pada hari Senin di bulan

Ramadan pada usia yang ke 40 menjadi awal kerasulan Muhammad saw. Wahyu

pertama tersebut berisi: "1) Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, 2)

Yang menciptakan manusia dari segumpal darah, 3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang

Mahamulia, 4) Yang mengajari (manusia) dengan pena, 5) Dia mengajarkan manusia

apa yang tidak diketahuinya."

Setelah menerima wahyu tersebut, Muhammad saw pulang menemui Khadijah dan

mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dirinya. Khadijah menenangkan:

"Bergembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan pernah menyia-nyiakanmu. Demi Allah,

engkau ini menghubungkan shilaturrahim (hubungan kerabat), berkata jujur,

menanggung beban orang lemah, membantu orang yang tidak punya, memuliakan

tamu, menolong orang-orang yang ditimpa bencana."

Khadijah lalu mempertemukannya dengan anak pamannya Waraqah bin Naufal,

seorang pendeta Nasrani. Setelah menjelaskan peristiwa yang baru dialaminya di gua

Hira, Waraqah menjelaskan bahwa yang datang kepada Muhammad saw itu adalah

malaikat yang pernah datang kepada nabi Musa.

"…Andai kata aku masih hidup dan kuat di saat engkau diusir oleh kaummu…" kata

Waraqah.

"Apakah mereka akan mengusirku?" Tanya Muhammad saw.

‘Ya…," jawabnya. (lihat HR Bukhari dan Muslim).

10. Nabi Muhammad Saw Hijrah ke Madinah 

Nabi Saw hijrah ke Madinah pada tahun ke 13 kenabian yang bertepatan dengan

tahun 622 M. Di dalam riwayat Ibnu Ishak dijelaskan bahwa beliau keluar dari

rumahnya yang saat itu sedang dikepung oleh pasukan bersenjata kaum musyrik

Makkah yang ingin membunuhnya. Lalu Allah Swt menidurkan mereka. Sambil

membaca QS. Yasin: 1-9 beliau manaruh pasir di kepala mereka semua, kemudian

pergi ke rumah Abu Bakar untuk hijrah bersama ke kota Madinah.

Nabi Muhammad saw tiba di Madinah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun

1 Hijriyah.

11. Peperangan Nabi Muhammad Saw

Yang mendasari peperangan nabi Muhammad saw. adalah ayat-ayat berikut:

- "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya

mereka dizhalimi." (Al-Hajj: 39).

- "Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan

melampaui batas, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas"

(QS. Al-Baqarah: 190).

Dalam hal ini ada aturan-aturan perang, antara lain: Jangan membunuh anak-anak,

orang tua, orang yang menyerah, pendeta dan petugas rumah ibadah yang tidak

menyerang, hewan tanpa tujuan maslahat, jangan membunuh dengan cara yang

sadis dan berlebihan (Tafsir Ibnu Katsir).

Dari sini jelas bahwa peperangan nabi Muhammad saw adalah sebagai upaya

pembelaan terhadap hak, bukan wasilah untuk islamisasi apalagi balas dendam.

Adapun jumlah peperangan yang diikutinya ada sebanyak 27 kali.

12. Akhlak Nabi Muhammad Saw 

Allah SWT menggambarkan akhlak nabi Muhammad secara umum di dalam QS. Al-

Qalam ayat 4: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur"

Sekedar contoh, penulis paparkan dua sisi dari akhlak beliau:

a. Kesabaran Nabi Muhammad Saw

Tidak sedikit beban yang ditanggung oleh nabi Muhammad saw dalam menyebarkan

dakwah ajaran yang dibawanya. Ejekan, makian, perlakuan kasar dan ancaman

pembunuhan diterimanya dari orang-orang musyrik Makkah. Namun itu semuanya

tak membuat kesabarannya luntur.

Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa Uqbah bin Abu Mu’ith

pernah mencampakkan kotoran onta kepada Rasulullah Muhammad saw sementara

beliau dalam keadaan sujud. Beliau terus sujud hingga putrinya Fathimah datang

membuangnya. Perlakuan kasar kaum Quraisy semakin bertambah setelah

pamannya Abu Thalib dan isterinya Khadijah meninggal dunia pada tahun 10

kerasulan. Karenanya beliau hijrah ke wilayah Thaif. Namun ternyata disini juga

beliau tidak diterima, malah penduduk setempat menyuruh anak-anaknya untuk

melemparinya dengan batu.

b. Kasih Sayang Nabi Muhammad Saw

Kasarnya tindakan pengusiran penduduk Thaif terhadap nabi Muhammad saw tidak

membuat beliau serta merta mendoakan mereka dengan azab. Tapi justru

sebaliknya: "Bahkan saya berharap agar Allah menjadikan dari keturunan mereka

orang-orang yang menyembah Allah dan tidak berbuat syirik kepada-Nya sedikit

pun," kata beliau saat malaikat penjaga gunung menawarkan kepadanya untuk

menimpakan gunung Abu Qubaisy dan gunung yang di sebelahnya kepada penduduk

Thaif. (Shahih Bukhari). Dan bagaimana pun juga kasarnya perlakuan dan azab dari

kaum musyrik penduduk Makkah kepadanya dan ummat pengikutnya, tapi itu tak

membuatnya dendam kepada mereka di saat pembebasan Makkah pada tahun 8 H.

Malah beliau saw memberikan amnesty besar-besaran kepada penduduk Makkah.

13. Keistimewaan yang Allah Berikan Kepadanya

a. Lima kelebihan yang tidak diberikan kepada orang sebelumnya

Dari Jabir bin Abdullah ra, nabi Muhammad saw bersabda: "Saya diberikan lima hal

yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelum saya; 1) saya diberi kemenangan

dengan rasa takut (yang ditimpakan kepada musuh-musuhku) dalam jarak satu bulan

perjalanan, 2) bumi dijadikan tempat shalat dan suci untukku, maka siapa pun di

antara ummatku yang mendapatkan waktu shalat hendaklah dia melakukannya, 3)

dihalalkan untukku harta ghanimah dan itu tidak dihalalkan kepada orang sebelum

saya, 4) saya diberi syafa’at, 5) dahulu nabi diutus hanya kepada kaumnya, tetapi

saya diutus kepada seluruh manusia." (HR. Bukhari dan Muslim)

b. Keistimewaannya di hari kiamat 

Dari Anas ra., nabi Muhammad saw bersabda: "Saya adalah orang pertama yang

diberikan syafaat pada hari kiamat nanti, nabi yang paling banyak pengikutnya di hari

kiamat, dan orang pertama yang mengetuk pintu surga" (HR. Muslim).

Keistimewaan lainnya disebutkan di dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah saw

bersabda: "Saya adalah pemimpin anak-anak Adam pada hari kiamat nanti, saya

orang pertama yang dibangkitkan dari kubur, dan saya orang pertama yang diberi

syafaat (oleh Allah) dan orang pertama yang memberi syafaat (kepada ummat

manusia)." (HR. Muslim).

14. Ibadah Beliau

Aisyah ra. Berkata: Rasulullah saw pernah shalat hingga dua kakinya membengkak.

Lalu beliau ditegur, beliau menjawab: "Apakah aku tidak pantas menjadi hamba yang

bersyukur?"

15. Nabi Muhammad Saw Wafat 

Beliau saw wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah di waktu Dhuha

dengan usia 63 tahun.

Sebelum ruhnya dicabut, beliau membaca:

َم َع اّلِذي َن َأْن َعَم ا ُّل َعَلْي ِه ْم ِم َن الّنِبّيي َن َوال ّصّديِقي َن َوال ّش َهَدا ِء َوال ّصاِل ِحي َن, الل ُهـّم اغِفـر لى وارحمنى وألحقنى بالرفيق العلى, اللهم الرفيق"

".العلى


                       Bangsa Quraisy 

Bangsa Quraisy dipandang sebagai salah satu bangsa 

yang dihormati dan disegani di antara bangsa-bangsa 

yang ada di semenanjung Arabia. Quraisy sendiri terbagi 

ke dalam berbagai suku. Bani Hasyim adalah salah satu 

suku terhormat di antara suku-suku yang ada. Qushai bin 

Kilab adalah nenek moyang mereka yang bertugas 

sebagai penjaga Ka'bah. 

Di tengah warga Makkah, Hasyim dikenal sebagai 

orang yang mulia, bijaksana dan terhormat. Ia banyak 

membantu mereka, memulai perniagaan pada musim 

dingin dan musim panas supaya mereka mendapatkan 

penghidupan yang layak. Atas jasa-jasanya, warga kota 

memberinya julukan "sayyid" (tuan). Julukan ini secara 

turun-temurun disandang oleh anak keturunan Hasyim. 

Setelah Hasyim, kepemimpinan bangsa Quraisy 

dipercayakan kepada anaknya yang bernama Muthalib, 

kemudian dilanjutkan oleh Abdul Muthalib. 

Abdul Muthalib adalah seorang yang berwibawa. Pada 

masanya, Abrahah Al-Habasyi menyerbu Makkah untuk 

menghancurkan Ka'bah. Namun berkat pertolongan 

Allah swt., Abrahah dan pasukan gajahnya mengalami 

kekalahan. Tahun penyerbuan itu kemudian dikenal 

dengan nama Tahun Gajah. Dan sejak peristiwa itu, 

nama Abdul Muthalib pun semakin terpandang di 

kalangan kabilah Arab. 

Abdul Muthalib mempunyai beberapa anak. Di antara 

mereka, Abdullah-lah anak yang paling soleh dan paling 

dicintainya. Pada usia 24 tahun, Abdullah menikah 

dengan perempuan mulia bernama Aminah.


Dua bulan setelah Tahun Gajah, Aminah melahirkan 

seorang anak. Ia memberinya nama Muhammad. 

Sebelum kelahiran Muhammad, ayahnya Abdullah 

meninggal dunia. Tak lama setelah melahirkan, sang ibu 

pun menyusul suaminya kembali ke alam baka. Maka, 

sejak awal kelahiran, Muhammad sudah menjalani 

hidupnya sebagai anak yatim. 

Setelah ditinggalkan oleh kedua orang tua yang 

tercinta, Muhammad diasuh oleh sang kakek, Abdul 

Muthalib. Berkat anugerah dan rahmat Allah swt., 

Muhammad tumbuh menjadi dewasa dengan kesucian 

jiwa yang terpelihara. 

Warga kota Makkah begitu mencintai Muhammad, 

bahkan merelakan barang-barang mereka di bawah 

pengawasannya. Atas kejujuran dan sifat amanah yang 

ditunjukkannya, mereka memberinya gelar "Al-Amin", 

yakni orang yang tepercaya. 

Dengan bekal iman yang teguh, Muhammad 

membantu orang-orang fakir, membela orang-orang yang 

tertindas, membagikan makanannya kepada orang-orang 

yang lapar, mendengarkan keluhan-keluhan mereka, dan 

berusaha memberikan jalan keluar atas masalah-masalah 

yang mereka hadapi. 

Ketika beberapa orang pemuda menggalang sebuah 

gerakan yang dikenal dengan nama "Sumpah Pemuda" 

(Hilful Fudhul), segera Muhammad pun bergabung 

bersama mereka, karena gerakan itu sejalan dengan 

perilaku luhur dan tujuannya. 

Pada suatu waktu, Abu Thalib, paman Muhammad, 

menganjurkannya untuk ikut berniaga dengan kafilah 

dagang Khadijah, seorang wanita Makkah yang kaya dan terhormat. Kemudian, Muhammad pun ditunjuk untuk 

memimpin kafilah dagang tersebut. 

Selama bergabung dalam kafilah dagangnya, Khadijah 

menyaksikan dari dekat kejujuran, keteguhan, dan 

keutamaan perilaku Muhammad. Tak segan lagi 

Khadijah melamarnya. Muhammad menerima lamaran 

itu. Dan tak lama kemudian, mereka pun melangsungkan 

pernikahan. 

Dari perhikahan itu, mereka dikaruniai seorang anak 

perempuan yang diberi nama Fatimah, yang dari 

keturunannya lahirlah manusia-manusia suci.


             Hajar Aswad (Batu Hitam) 

Sepuluh tahun setelah pernikahan itu, banjir besar 

melanda kota Makkah yang merusak sebagian besar 

bangunan Ka'bah. Warga kota bermaksud untuk 

memperbaikinya. 

Untuk mencegah pertikaian yang bakal terjadi, 

perbaikan itu dilakukan oleh berbagai suku yang ada di 

kota secara gotong royong. Namun, tatkala perbaikan 

telah selesai, tibalah saatnya untuk meletakkan Hajar 

Aswad. Ketika itu, masing-masing bangsa mengaku 

paling berhak untuk meletakkan batu itu. 

Perang hampir saja terjadi. Tiba-tiba Muhammad 

muncul memberi sebuah usulan, dengan menanggalkan 

jubahnya dan meletakkan Hajar Aswad tepat di tengah-

tengahnya, lalu setiap kepala suku memegang tepi jubah 

itu, lantas membawanya bersama-sama ke tempat 

asalnya.


                     Wahyu Pertama 

Menginjak usia 40 tahun, Muhammad diangkat 

sebagai nabi. Suatu hari, ketika beliau sedang melakukan 

ibadah di gua Hira, datanglah Malaikat Jibril as. 

membawa wahyu dari Allah dan menyapanya, "Iqra!" 

"Bacaralah dengan nama Tuhanmu yang telah 

menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari 

gumpalan darah. Bacalah bersama Tuhanmu Yang 

Mahamulia. Dialah yang mengajarkan ilmu dengan pena. 

Dialah yang telah mengajarkan kepada manusia akan 

segala yang tidak diketahuinya." 

Sejak itu, Muhammad terpilih untuk mengemban 

risalah Allah sebagai Rasulullah saw. di tengah umat 

manusia di seluruh dunia. 

Di awal-awal kenabian, Muhammad saw. berdakwah 

secara rahasia. Pada saat itu, hanya beberapa orang yang 

mau menerima Islam. Orang pertama yang mengakui 

Muhammad sebagai Rasulullah saw. ialah istri beliau 

Khadijah, kemudian sepupunya Ali bin Abi Thalib. 

Tiga tahun lamanya Islam terus menyebar di kalangan 

rakyat miskin kota Makkah. Setelah itu, Allah swt. 

memerintahkan Rasulullah saw. untuk melakukan 

dakwah secara terang-terangan, mengajak manusia 

menyembah Tuhan Yang Esa dan memulai perang suci 

melawan para penyembah berhala. 

Tugas dakwah merupakan tugas yang penuh resiko dan 

bahaya. Sebab, para pemuka kabilah telah sekian lama 

larut dalam kenikmatan berupa kedudukan dan 

menjadikan orang-orang sebagai budak mereka.


Mereka khawatir bahwa dakwah Rasulullah saw. akan 

merongrong kekuasaan mereka. Selain itu, tugas dakwah 

menjumpai kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaannya, 

karena berhala-berhala itu telah lama dijadikan 

sesembahan oleh mereka. 

Rasulullah saw. tidak mengenal toleransi. Beliau 

memilih untuk memikul tugas ini demi mengesakan 

Tuhan dan menegakkan undang-undang Tauhid di muka 

bumi. 

Masyarakat yang sebelumnya menghormati dan santun 

terhadap Nabi saw, kini berbalik membenci dan 

memusuhi dakwah beliau dengan harta. Namun usaha 

mereka gagal. 

Kemudian, permusuhan mereka berlanjut dengan 

menyiksa dan menjarah harta-harta milik Nabi saw. 

Namun, usaha mereka ini pun tidak berhasil untuk 

menahan laju dakwah suci beliau. 

Kaum kafir Makkah tidak pernah lelah untuk 

mengubah pendirian Rasulullah saw. Mereka 

meningkatkan permusuhannya dan mengusir beliau 

beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya keluar dari 

Makkah, lalu mengurungnya di ladang Abu Thalib, 

hingga sebagian mereka yang bersama Rasul di 

dalamnya mati kelaparan. 

Mereka bahkan memperketat pengurungan ladang itu 

sehingga makanan dan minuman tidak dapat ditemui 

oleh Nabi beserta pengikutnya yang setia. Beberapa 

penduduk yang ikut Nabi mempertaruhkan hidupnya 

untuk menyelundupkan makanan dari kota di kegelapan 

malam.

Waktu berlalu begitu cepat. Kaum kafir menyerah 

pada tekad dan kegigihan yang ditunjukkan oleh kaum 

muslimin. Mereka memutuskan untuk membunuh 

Rasulullah saw. 

Untuk itu, mereka memilih pemuda-pemuda terkuat 

dari kalangan keluarga dan suku mereka dengan 

memberikan upah yang besar kepada siapa yang berhasil 

membunuh beliau. Mereka memutuskan untuk 

menyergap kediaman Nabi saw. pada malam hari.


                   Hijrah ke Madinah 

Rencana keji itu diketahui oleh Rasulullah saw. 

melalui wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril as. 

Beliau memilih sepupunya Ali bin Abi Thalib untuk 

menggantikannya tidur di atas ranjang beliau dengan 

mempertaruhkan hidupnya demi keselamatan beliau. 

Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah di 

kegelapan malam. Kaum musyrikin telah berkumpul 

untuk membunuh Nabi saw. Betapa terkejutnya mereka, 

tatkala mendapati Ali di atas ranjang Rasul saw. Mereka 

segera mengejar beliau. Namun pengejaran itu gagal. 

Mereka pun kembali ke Makkah dengan tangan hampa. 

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Nabi 

saw. tiba di Quba, sebuah tempat di dekat kota Madinah. 

Penduduk desa menyambut kedatangan beliau. Dengan 

suka cita beliau berencana membangun tempat salat dan 

menyusun tugas-tugas dakwah. 

Pembangunan masjid Quba berjalan lancar. Nabi saw. 

turun langsung dalam menyelesaikan pembangunannya. 

Sesudah itu, beliau melakukan salat Jum'at dan berdiri 

sebagai khatib. Inilah salat Jum'at yang pertama kali 

dilaksanakan oleh beliau. 

Rasulullah saw. menetap di Quba untuk beberapa saat 

sambil menyampaikan ajaran-ajaran Allah. Di sana pula 

beliau menantikan kedatangan Ali yang ditinggalkannya 

di kota Makkah untuk menunaikan titipan dan amanat 

kepada pemiliknya masing-masing. Hingga akhirnya Ali 

pun datang ke Quba bersama kaum wanita keluarga Bani 

Hasyim. Rasulullah saw. memasuki kota Yastrib. Sejak saat itu 

pula nama kota itu berubah menjadi Madinatur-Rasul 

atau Madinah Al-Munawarah. Penduduk kota 

menyambut beliau dan sebagian kaum Muhajirin yang 

menyertainya dengan begitu hangat dan meriah. Setiap 

penduduk berlomba meminta beliau untuk duduk di 

rumah mereka. Kepada mereka semua, beliau berkata: 

"Berilah jalan kepada untaku ini. Aku akan menjadi tamu 

orang yang di depan pintunya unta ini berhenti". 

Si unta berjalan dan melintasi jalan-jalan kota 

Madinah, hingga ia menghentikan langkahnya dan 

bersila di depan pintu rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Di 

rumah itulah Rasulullah saw. dijamu. 

Sesampainya di Madinah, pertama yang dilakukan 

oleh Rasulullah saw. ialah pembangunan masjid sebagai 

pusat dakwah dan pengajaran. Nabi juga segera 

menyerukan perdamaian serta persaudaraan antara dua 

bangsa; Aus dan Khazraj, yang telah berperang selama 

bertahun-tahun akibat hasutan yang dilancarkan oleh 

orang-orang Yahudi Madinah. 

Dalam rangka mengikis habis akar-akar pembeda 

antara kaum Muhajirin yang datang dari Makkah dan 

kaum Anshor sebagai penduduk asli Madinah, 

Rasulullah saw. mempersaudarakan mereka satu persatu, 

sehingga kaum Muhajirin tidak menjadi beban kaum 

Anshor di kemudian hari dan mereka dapat hidup 

bersama dengan rukun dan damai. 

Orang-orang Yahudi Madinah memandang 

persaudaraan itu dengan penih kedengkian. Mereka 

selalu berusaha menyulut semangat perpecahan di 

kalangan kaum muslimin. Sementara Rasulullah saw. memadamkan api pertikaian, mereka malah giat 

mengobarkannya.


                       Peralihan Kiblat 

Pada awalnya, Rasulullah saw. melakukan solat dan 

ibadah ke arah Masjid Al-Aqsa di Jerusalem (Palestina). 

Itu berlanjut selama 13 tahun di Makkah dan 17 bulan di 

Madinah. 

Kaum Yahudi pun menghadap masjid Al-Aqsa dalam 

solat-solat mereka. Karena ini pula mereka selalu 

mencemooh kaum muslimin, "Jika benar kami dalam 

kesesatan, lalu mengapa kalian mengikuti kiblat kami?!". 

Hingga pada suatu hari, turunlah wahyu yang 

memerintahkan Rasulullah saw. agar kaum muslimin 

menghadap Ka'bah Masjidil Haram dalam setiap solat 

mereka. 

Perintah ini sungguh memukul kaum Yahudi. Mereka 

bertanya-tanya tentang sebab peralihan kiblat kaum 

muslimin. Mereka tidak sadar bahwa peralihan kiblat ini 

merupakan ujian bagi kaum muslimin sendiri, sehingga 

dapat dikenali siapa yang taat dan siapa yang menentang 

Rasulullah saw.


            Peperangan Rasulullah saw. 

1. Perang Badar 

Rasulullah saw. mengadakan perjanjian gencatan 

senjata dengan kabilah-kabilah tetangga guna melindungi 

kota Madinah dari segala ancaman makar dan 

penyerangan. 

Sementara itu, Quraisy Makkah melakukan penjarahan 

atas harta-harta umat Islam di kota itu. Rasulullah saw. 

pun berpikir untuk merebut kembali harta-harta itu dari 

mereka. Untuk itu, beliau memutuskan untuk menyerang 

kafilah-kafilah pedagang kafir Quraisy. 

Demikianlah awal meletusnya bentrokan senjata antara 

kaum muslimin dan kaum musyrikin di suatu tempat 

dekat sumur Badar. Oleh karena ini, peperangan pertama 

di antara mereka ini dinamai Perang Badar. 

Kaum muslimin mampu memenangkan peperangan itu 

secara gemilang. Nama mereka pun mulai terpandang 

dan disegani di semenanjung Arabia. 

2. Perang Uhud 

Bagi kaum musyrik Quraisy, kemenangan kaum 

muslimin pada perang Badar itu malah membuat hati 

mereka terbakar kemarahan. Tak ayal lagi, Abu Sufyan 

mulai mengitung hari untuk melancarkan pembalasan 

dendam. Bahkan ia melarang perempuan-perempuan 

Quraisy menangisi korban perang Badar, supaya api 

dendam tetap membara di dalam jiwa-jiwa mereka.

Sementara di Madinah, kemenangan gemilang kaum 

muslimin meresahkan kaum Yahudi. Segera mereka 

mendekati orang-orang Quraisy dan menghasut mereka 

untuk menuntut dendam atas kaum muslimin. 

Dalam rangka itu, salah seorang Yahudi bernama 

Ka'ab bin Asyraf bertolak ke Makkah. Setibanya di sana, 

ia membacakan syair-syair dan mengulang-ulangnya, 

hanya untuk membakar emosi kaum Quraisy. 

Hasilnya, kaum Quraisy mengadakan pertemuan di 

Darun Nadwah, dan sepakat dendam mereka untuk 

menyerang Madinah. Di sana mereka pun menghitung 

biaya yang akan dikeluarkan pada pertempuran 

mendatang. Biayanya ditaksir mencapai 50.000 Dinar. 

Sejak itu, mereka mulai mempersiapkan persenjataan dan 

meminta bantuan dari kabilah-kabilah yang bermukim di 

sekitar Makkah. 

3000 pasukan Quraisy bersenjata lengkap bertolak ke 

Madinah melalui padang sahara. Abu Sufyan menjadi 

panglima perang dan Khalid bin Walid memimpin 

pasukan. 

Abbas bin Abdul Muthalib yang merahasiakan 

keislamannya mengirimkan kurir untuk menyampaikan 

pesan ihwal rencana penyerangan itu. 

Setelah menerima pesan dari pamannya, Rasulullah 

saw. segera mengadakan musyawarah yang menyepakati 

untuk menyambut lawan di luar kota. 

7 Syawal tahun ke-3 Hijriah, tepatnya pada hari sabtu 

pagi, pasukan kaum muslimin bergerak meninggalkan 

Madinah menuju gunung Uhud. Atas perintah Rasulullah

saw, mereka mendirikan tenda-tenda tidak jauh dari 

barisan musuh. 

Rasulullah saw. menempatkan Abdullah bin Jabir 

bersama 50 orang lainnya yang dilengkapi busur dan 

anak panah untuk berada di atas bukit. Beliau 

memperingatkan mereka untuk tidak beranjak dari 

puncak bukit itu betapapun resiko yang akan 

menghadang, apakah menang atau kalah dalam 

peperangan. Setelah itu, pasukan yang membawa 

bendera Tauhid dan pasukan yang mengusung bendera 

Syirik berhadapan satu sama lainnya. Pertempuran itu 

dimulai oleh Abu Umair dari Quraisy. 

Pada awal-awal pertempuran, tentara Islam bertarung 

dengan gagah berani dan membuat pasukan kafir hampir 

saja kalah. Namun kemudian, keadaan justru berbalik. 

Pasukan panah yang mengawasi medan perang itu 

melihat saudara-saudaranya memukul mundur pasukan 

musuh. Mereka pun turun meninggalkan bukit untuk 

memungut ghanimah (harta rampasan perang). Mereka 

lalai terhadap perintah Rasulullah saw. untuk tidak 

beranjak dari posisi mereka. 

Khalid bin Walid memanfaatkan kelengahan kaum 

muslimin. Ia dan pasukannya berbalik mengitari gunung 

kemudian menyerang kaum muslimin yang sedang sibuk 

mengumpulkan ghanimah itu dari arah belakang. Banyak 

pasukan Islam tewas karena ketidaktaatan sebagian 

mereka kepada Rasulullah saw. Ada sekitar 70 pejuang 

kaum muslimin syahid, ada pula yang melarikan diri dari 

medan pertempuran. 

Perang berakhir dengan kemenangan berada di pihak 

musuh. Rasulullah saw. dapat diselamatkan berkat 

kesetiaan Ali bin Abi Thalib serta bantuan pasukan

muslimin lainnya. Bersama mereka, Ali berhasil 

mengejar dan membunuh beberapa tentara musuh. 

Dengan kegigihan mereka, kota Madinah selamat dari 

penyerbuan kaum kafir itu. Namun demikian, perang 

Uhud ini telah memberikan pelajaran ketaatan dan 

kesetiaan yang tak terlupakan oleh kaum muslimin. 

3. Perang Khandaq 

Orang-orang Yahudi yang terusir dari Madinah akibat 

permusuhan dan pengkhianatan mereka sendiri, tidak 

tinggal diam melihat keadaan kaum muslimin. 

Pemimpin mereka melakukan pendekatan dengan 

pemimpin-pemimpin Quraisy di Makkah, sambil 

melancarkan hasutan supaya mereka mengadakan 

perlawanan terhadap kaum muslimin. Pemimpin Yahudi 

itu berjanji untuk menyokong bangsa Quraisy dengan 

segala kekuatan yang ada. 

Sebagai hasil dari pendekatan ini, berbagai bangsa, 

suku dan kelompok bersekutu untuk mengangkat senjata 

melawan umat Islam. Oleh karena itu, peperangan ini 

dikenal sebagai perang Ahzab, yaitu perang gabungan 

beberapa bangsa melawan Islam. 

Pasukan bersenjata mereka terdiri dari kaum kafir 

Quraisy, kaum Yahudi, orang-orang munafik dan 

pengkhianat Islam dari Madinah. Mereka bertekad bulat 

untuk menghancurkan Islam. 

Pada bulan Syawal tahun ke-5 Hijriah, sebanyak 

10.000 pasukan sekutu itu berangkat menuju Madinah. 

Di depan mereka adalah Abu Sufyan sebagai panglima 

perang pasukan sekutu.

Beberapa pasukan berkuda dari kabilah Khuza'i 

memasuki kota Madinah dan melaporkan keadaan musuh 

kepada panglima besar kaum muslimin, Rasulullah saw. 

Rasulullah saw. memerintahkan pasukannya untuk 

bersiaga dan para komandan diminta berkumpul untuk 

memusyawarahkan segala sesuatu yang diperlukan. 

Dalam musyawarah itu, sahabat Rasulullah saw, 

Salman Al-Farisi, mengusulkan untuk menggali parit di 

sekeliling kota Madinah dan kaum muslimin berlindung 

di balik galian parit itu. Usulan itu diterima secara 

mufakat. Maka, sebanyak 3.000 sukarelawan Islam 

bekerja siang dan malam untuk menggali parit sedalam 5 

meter, selebar 6 meter, dan sepanjang 12.000 meter. 

Beberapa jalur dan jembatan dibuat di atas parit dan 

beberapa penjaga ditugasi untuk mengawasi kedatangan 

pasukan musuh. Di balik parit, dibangun pos-pos 

pertahanan yang di atasnya dijaga oleh pasukan 

pemanah. 

Pasukan kaum musyrikin pun tiba. Mereka melihat 

galian parit mengelilingi kota yang menyulitkan mereka 

untuk melintasi dan menyerang orang-orang di seberang 

parit. 

Abu Sufyan segera memanggil Hayy bin Ahthab, 

pemimpin Yahudi dari Bani Nadhir, dan memintanya 

untuk menemui Ka'ab bin Asad, pemimpin Yahudi dari 

Bani Quraizhah yang sedang bermukim di dalam 

Madinah. Ka'ab bin Asad diminta untuk membuka 

lapang jalan orang-orang Yahudi. Makar ini 

dimaksudkan agar orang-orang musyrikin itu dapat menyusup ke dalam kota melalui jalan tersebut lalu 

menyerang kaum muslimin. 

Cara licik Abu Sufyan ini telah diketahui sebelumnya. 

Rasulullah saw. telah mengambil langkah-langkah 

pencegahan dengan menugaskan 500 prajurit untuk 

berpatroli di sekeliling kota. Prajurit itu ditugasi untuk 

memelihara kota agar stabil dalam keadaan siaga dan 

waspada. Mereka mewaspadai orang-orang yang datang 

dan pergi dari kota. Dengan langkah pencegahan ini, 

persekongkolan warga kota dengan pihak musuh dapat 

diatasi. 

Ancaman bahaya serangan dari dalam kota berhasil 

digagalkan dan pasukan sekutu itu tetap pada posisi 

mereka di seberang parit. Mereka tidak berhasil 

mengecoh kaum muslimin. 

Hingga tibalah suatu hari, lima orang gagah berani dari 

pihak musuh melintasi parit. Kelima orang gagah berani 

itu dipimpin oleh Amr bin Abdi Wud. Di atas kudanya ia 

berteriak lantang, "Hai orang-orang yang mengaku 

penghuni Surga, di mana kalian semua? Majulah, 

sehingga aku dapat mengirim kalian ke Surga". 

Tidak satu pun dari kaum muslimin yang menjawab 

tantangan itu, kecuali Ali bin Abi Thalib. Ia begitu cepat 

bangkit dan maju mendekati orang itu. Dan setelah saling 

adu tantangan, Ali mengayunkan pedangnya dengan 

sekali tebasan ke atas kepala Amr. Setelah Amr 

tersungkur tewas, Ali mengumandangkan takbir, "Allahu 

Akbar!" . 

Salah satu kawan Amr bin Abdi Wud melarikan diri 

dan terjatuh ke dalam parit. Ali tidak memberikan 

kesempatan kepada lawan dan segera menghabisinya. Sedangkan ketiga sahabat Amr yang lain berhasil 

melarikan diri dari kejaran Ali. 

Peristiwa di atas ini begitu menggugah keimanan dan 

keberanian umat Islam, sebagaimana yang dikatakan 

Rasulullah Saw., "Sekali tebasan pedang Ali jauh lebih 

sebanding dengan ibadah 70 tahun seluruh manusia dan 

jin". 

Demi menjaga semangat pasukannya, Khalid bin 

Walid bersama beberapa pasukan berkuda, pada hari 

berikutnya, mencoba untuk melewati parit. Namun, 

pasukan muslimin terlalu tangguh untuk mereka hadapi. 

Mereka hanya berusaha dengan cara mengepung kota. 

Di tangah pengepungan, Na'im bin Mas'ud yang 

terkenal dengan kecerdikannya memutuskan untuk 

masuk Islam. Rasulullah saw. menyuruhnya agar 

merahasiakan keimanannya, hingga ia bisa memperdaya 

kaum musyrikin dan menebarkan perpecahan di antara 

mereka dan kaum Yahudi. 

Sama seperti Na'im, adalah Khuzaifah Yamani 

menyusup di kegelapan malam ke dalam jajaran musuh 

sampai menembus jantung kekuatan mereka. Di 

dalamnya ia berusaha mengendurkan tekad perang, 

hingga berhasil mematahkan semangat juang mereka. 

Sampai pada suatu malam, badai besar berhembus, 

belum lagi udara yang semakin dingin menggigilkan. 

Tak pelak lagi, semangat pasukan musyrikin menjadi 

luluh lantak. Ditambah perselisihan di antara mereka 

semakin meluas setelah melihat mengepungan yang tidak 

membuahkan hasil.

Sebelum terjadi perkembangan pertempuran yang 

mengecewakan, Abu Sufyan segera meninggalkan 

medan tempur secara diam-diam di kegelapan malam. 

Panglima musyrikin itu beserta pasukannya kembali ke 

Makkah dengan perasaan malu dan hina. 

Ketika pasukan muslimin terbangun di subuh hari, 

mereka menyaksikan lasykar kafir telah meninggalkan 

medan pertempuran. Ketika Rasulullah saw. 

mendengarkan berita tentang kaburnya musuh, beliau 

memerintahkan pasukannya untuk meninggalkan pos-pos 

pertahanan dan kembali ke kota. 

Nasib Bani Quraizah 

Setelah meraih kemenangan gemilang pada perang 

Ahzab, Rasulullah saw. membawa pasukannya 

mendekati benteng pertahanan Bani Quraizah. Pasukan 

Islam memaksa mereka menyerah, setelah mengepung 

benteng mereka selama dua puluh lima hari. 

Karena menderita kekalahan, Bani Kuraizah memohon 

agar dapat meninggalkan kota Madinah. Akan tetapi 

Rasulullah saw. menolaknya, sebab jika sampai lolos 

meninggalkan kota, mereka akan membuat 

persekongkolan lagi dan menciptakan peperangan baru, 

sebagaimana Bani Nadzir yang memicu untuk 

meletuskan perang Khandaq. 

Akhirnya, orang-orang Yahudi yang licik itu harus 

kecewa pada keputusan itu. Sa'ad bin Ma'adz 

menyampaikan maklumat bahwa orang-orang yang 

berkhianat dan membantu pihak musuh selama 

pererangan harus dibunuh dan harta kekayaan mereka 

harus dirampas.


                Perjanjian Hudaibiyah 

Derita kekalahan kafir Quraisy dan kedigjayaan kaum 

Muslimin, khususnya penaklukan Bani Mustaliq sampai 

menyebabkan mereka masuk agama Islam, telah 

menggelapkan mata kaum kafir Quraisy. 

Pada bulan Dzulqaidah tahun ke-7 Hijriah, Nabi 

Muhammad saw. beserta 14.000 lasykar Islam bergerak 

menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji. 

Kepergian Rasulullah saw. ke tanah suci tidak hanya 

untuk keperluan ibadah saja, namun juga untuk 

kepentingan politik. Haji beliau kali ini bertujuan untuk 

menjadikan status kewarganegaraan kaum muslimin di 

semenanjung Arabia menjadi benar-benar diakui. 

Dengan demikian, kaum muslimin berhak untuk 

bermukim di sepanjang tanah Arab tanpa harus takut 

diusir. 

Kaum kafir Quraisy menerima kabar bahwa Rasulullah 

saw. akan berkunjung ke Baitullah Ka'bah. Mereka 

bersumpah di hadapan berhala-berhala untuk tidak 

membiarkan beliau memasuki kota Makkah. 

Kafir Quraisy mengutus Khalid bin Walid beserta dua 

ratus pasukan berkuda untuk menghadang Rasulullah 

saw. bersama pasukannya. 

Saat itu, Rasulullah saw. telah sampai di daerah 

Hudaibiyah melalui jalan berbeda untuk menghindari 

pertempuran dan peperangan yang mungkin mengintai 

setiap saat. Segera beliau mengutus salah seorang 

sahabat untuk mengintai pasukan Quraisy dan 

meyakinkan mereka, bahwa Rasulullah saw. beserta 

kaum muslimin datang hanya untuk menunaikan ibadah

haji saja. Sahabat itu ditugaskan untuk meyakinkan para 

pemimpin Quraisy bahwa kedatangan Rasulullah saw. 

kali ini tidak untuk berperang. Namun, mereka malah 

berlaku kurang ajar terhadap utusan beliau. 

Rasulullah saw. meminta baiat (sumpah setia) kepada 

sahabat agar tetap setia dan rela berkorban kepada beliau 

di bawah pohon. Ketika hal ini diketahui oleh kafir 

Quraisy, mereka sangat geram sekaligus malu, sehingga 

diutuslah Suhail sebagai wakil mereka untuk berunding. 

Kaum kafir Quraisy tidak menghendaki kaum 

muslimin memasuki kota Makkah dan menunaikan 

ibadah haji pada tahun ini dan segera pulang ke 

Madinah. Apabila mereka mau menunaikan haji pada 

tahun depan, kaum muslimin tidak diperbolehkan untuk 

membawa senjata. Selama masa haji itu, pihak 

Quraisylah yang bertanggung jawab atas keselamatan, 

keamanan harta dan jiwa kaum muslimin. 

Perjanjian ditandatangani dengan lima butir 

kesepakatan, meskipun beberapa orang Islam kecewa. 

Puncak kekecewaan mereka tunjukkan dengan keberatan 

terhadap keputusan-keputusan Rasulullah saw. Mereka 

mengira bahwa penandatanganan perjanjian itu adalah 

suatu aib yang memalukan umat Islam, khususnya pada 

satu butir kesepakatan yang menyatakan bahwa jika 

seorang muslim lari dari Makkah lalu sampai di 

Madinah, maka ia akan dipulangkan ke tempat asalnya. 

Sebaliknya, orang muslim Madinah yang masuk Makkah 

tidak boleh kembali ke Madinah. 

Kekecewaan itu sebenarnya tidak berdasar. Mereka 

tidak mengerti bahwa keuntungan perjanjian itu 

sesungguhnya merupakan awal dari penaklukan kota 

Makkah kelak. 

4. Perang Khaibar 

Pada awal bulan Rabiul Awal tahun ke-7 Hijriah, 

Rasulullah saw. beserta 1.600 kaum muslimin bertolak 

dari Madinah menuju Khaibar. Lasykar Islam di bawah 

komandan beliau menyerang musuh dengan tiba-tiba dan 

dengan mudah merebut tanah Raji' yang terletak di 

antara Khaibar dan Ghatafan. 

Panglima besar laskar Islam Rasulullah saw. 

menerapkan strategi militer yang jitu. Sehingga antara 

orang-orang Yahudi Khaibar dengan orang-orang Arab 

Ghatafan tidak dapat saling membantu satu sama yang 

lain. 

Laskar Islam mengepung benteng Khaibar pada malam 

hari. Mereka mengambil posisi di tempat strategis yang 

tersembunyi di balik tanaman palem. Dengan mudah 

mereka menguasai lembah Khaibar. Kemudahan ini 

berkat keberanian dan ketulusan mereka dalam 

berkorban. 

Sayangnya, dua lembah strategis yang menjadi markas 

kaum Yahudi tidak dapat dikuasai. Kaum Yahudi itu 

mempertahankan benteng mereka mati-matian dengan 

melepaskan anak-anak panah ke arah pasukan muslimin. 

Rasulullah saw. memerintahkan Abu Bakar memimpin 

pasukan tempur, namun tidak berhasil menaklukkan 

benteng itu. Pada hari kedua, Umar Bin Khatab ditunjuk 

sebagai komandan tempur, namun tidak juga berhasil. Di 

seberang sana, kaum Yahudi Khaibar terus saja 

memperolok kaum muslimin.

Melihat kegagalan kaum muslimin menaklukkan 

benteng tersebut, Rasulullah saw. bersabda, "Besok aku 

akan memberikan bendera Islam ini kepada orang yang 

hanya kembali bila benteng pertahanan Yahudi itu telah 

dikuasai". 

Seluruh sahabat menantikan fajar tiba untuk 

menyaksikan siapa gerangan orang yang beruntung itu. 

masing-masing memimpikan menjadi pemegang bendara 

esok hari. 

Pada pagi harinya, Rasulullah saw. memanggil Ali. 

Beliau menyerahkan bendera Islam itu kepadanya dan 

menugaskannya untuk menaklukkan lembah Khaibar. 

Rasulullah saw. berdoa untuk kesuksesan Ali. 

Ali menerima tugas ini dengan penuh semangat. Ia 

bersama pasukannya bergerak mendekati pintu gerbang 

Khaibar. Pintu gerbang itu dijaga oleh dua saudara yang 

gagah berani, Haris dan Marhab. Mereka menyerang 

pasukan Ali dengan garang sampai tunggang langgang 

menyelamatkan dirinya masing-masing. 

Sebagai komandan perang, Ali segera menghadang 

kedua bersaudara itu. Dengan kegagahan dan 

keperkasaannya, ia mampu menghempaskan kedua orang 

Yahudi itu. 

Kematian mereka membuat orang-orang Yahudi yang 

berada di balik benteng menjadi ketakutan dan panik. 

Mereka cepat-cepat menutup pintu gerbang dan 

bersembunyi di baliknya. Pasukan muslimin yang 

tadinya kocar-kacir melarikan diri, setelah melihat 

keunggulan Ali, segera kembali dan bersiaga di belakang 

sang komandan. Ali maju mendekati pintu gerbang itu 

dan mengangkatnya lepas dari benteng.

Sementara kaum Yahudi tercengang menyaksikan 

kekuatan dan keberanian Ali hingga mereka menyerah 

takluk, Ali melemparkan pintu itu ke atas parit untuk 

dijadikan jembatan yang kemudian dilintasi pasukan 

muslimin. Demikianlah mereka berhasil dengan mudah 

memasuki dan menduduki Khaibar, benteng kokoh 

orang-orang Yahudi itu. 

Sama seperti kaum Yahudi, kaum muslimin pun takjub 

di hadapan kekuatan Ali. Mereka bertanya-tanya satu 

sama lain, bagaimana Ali bisa melakukannya. Tujuh 

orang muslim sempat mengangkat pintu itu, namun tidak 

sedikitpun bergeser. 

Tentang kekuatannya, Ali menuturkan, "Aku tidak 

mampu menjebol gerbang itu dengan kekuatan manusia 

biasa. Tapi aku melakukannya dengan kekuatan Allah 

swt.". 

Akhirnya, pasukan muslimin menguasai seluruh 

benteng yang ada di sekitar Khaibar dan menaklukkan 

orang-orang Yahudi. Sisa-sisa orang Yahudi memohon 

kepada Rasulullah saw. untuk diperbolehkan tinggal. 

Mereka ingin tetap dapat mengolah tanah tersebut untuk 

pertanian dan perkebunan. Mereka berjanji akan 

menyumbangkan setengah dari hasil panen itu kepada 

kaum muslimin. Beliau mengabulkan permohonan itu. 

Tanah Fadak 

Berita tentang penaklukan Khaibar terdengar oleh 

orang-orang Yahudi yang bermukim di Fadak. Mereka 

menjadi sangat risau dan ketakutan. Orang-orang Fadak 

itu mengutus wakil mereka untuk bertemu dengan 

Rasulullah saw. dengan membawa pesan akan perlunya

dibuat suatu perjanjian. Lalu mereka menyerahkan 

separuh wilayah Fadak kepada beliau yang kemudian 

dihadiahkannya kepada putrinya, Fatimah agar dapat 

dikelola untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya 

dan keperluan orang-orang miskin. 

Sesudah perang Khaibar, Rasulullah saw. bertolak 

menuju Wadi Qura (lembah Qura) yang menjadi pusat 

pemukiman Yahudi. Beliau dan pasukan muslimin 

mengepung pemukiman itu dan begitu cepat ditaklukkan. 

Beliau berjanji untuk mengembalikan tanah Yahudi itu 

kepada pemiliknya, dengan syarat bahwa separuh dari 

hasil pertanian itu harus diserahkan kepada kaum 

muslimin. Hal ini berlaku sebagaimana pengembalian 

tanah di lembah Khaibar, yakni separuh hasil pertanian 

itu harus diserahkan kepada kaum muslimin. 

Perjanjian ini dilakukan untuk mengaktifkan sektor 

ekonomi dan mampu menghasilkan kesejahteraan umat 

Islam, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri dan 

hartanya jika ada seruan perang. 

5. Perang Mu'tah 

Sebelum meletusnya perang Mu'tah, Rasulullah saw. 

mengutus Harits bin Umair kepada penguasa Syiria 

dengan maksud mengajaknya menerima Islam. Namun 

pihak penguasa berlaku kurang ajar. Mereka menahan 

dan membunuh duta Islam itu. 

Setelah peristiwa ini, Rasulullah saw. masih mengutus 

16 duta Islam (da'i) untuk mengajak penguasa Syiria dan 

rakyatnya kepada Islam. Sayangnya, mereka juga 

dibunuh. Dari 16 orang duta itu, hanya satu orang yang 

mampu meloloskan diri dan kembali ke Madinah.

Sesampainya di Madinah, duta itu segera melapor 

kepada Rasulullah saw. Beliau sangat terpukul 

mendengar hal itu. Pembantaian terhadap para duta itu 

membuat beliau mengeluarkan perintah untuk berjihad. 

Beliau menghimpun 3.000 pasukan pada Jumadil Tsani 

tahun 8 Hijriah. 

Sebelum pasukan muslimin meninggalkan Madinah, 

Rasulullah saw. memberikan pengarahan kepada mereka: 

"Yang akan memimpin pasukan pertama kali adalah 

Ja'far bin Abi Thalib, jika sesuatu menimpanya, maka 

tampuk kepemimpinan diserahkan pada Zaid bin 

Haritsah. Dan jika terjadi sesuatu pada Zaid, maka 

Abdullah bin Rawahah yang menjadi pimpinan kalian. 

Dan jika Abdullah bin Rawahah juga menjumpai 

kesyahidannya, maka pilihlah komandan di antara 

kalian". 

Setelah mendapatkan pengarahan dari penglima besar 

mereka, berangkatlah pasukan itu di bawah komando 

Ja'far bin Abi Thalib. Ketika pasukan muslimin sampai 

di dekat kota Ma'an, mereka mendapat berita bahwa 

Kaisar Romawi telah mengirim 100.000 pasukannya 

ditambah 100.000 orang Arab yang berada di bawah 

kekuasaannya. 

Perang Yang Tak Seimbang 

Lasykar musuh yang berjumlah 200.000 pasukan itu 

berhadapan dengan 3.000 pasukan muslimin. Maka 

perang pun tak lagi terelakkan. Ja'far bin Abu Talib 

bertempur dengan gagah berani sampai darah 

penghabisan. Ia gugur sebagai syahid.

Pucuk komando segera diambil oleh Zaid bin Haritsah. 

Zaid pun bertempur dengan gagah berani. 

Namun, ia pun mati syahid. Setelah gugurnya Zaid, 

Pasukan muslimin dipimpin oleh Abdullah bin Rawahah 

yang juga berakhir dengan kesyahidannya. 

Dengan gugurnya para komandan mereka yang gagah 

berani itu, kaum muslimin segera memilih Khalid bin 

Walid untuk memimpin pasukan. Khalid segera menarik 

pasukannya dari medan pertempuran dan menyelamatkan 

prajurit dari medan tempur. 

Pada sore harinya, Khalid merencanakan penarikan 

seluruh pasukan dari medan pertempuran dan memimpin 

mereka bergerak kembali ke Madinah. 

Penaklukan Kota Makkah 

Penarikan mundur pasukan muslimin dari medan 

pertempuran Mu'tah telah membuat kafir Quraisy 

semakin berani dan congkak. Mereka berfikir bahwa 

kaum muslimin telah kehilangan daya dan kekuatan 

tempur. Oleh karena itu, mereka mengkhianati perjanjian 

Hudaibiyah. Dengan bantuan sekutu-sekutunya, mereka 

menyerang dan membunuh banyak kaum muslimin dari 

Bani Thaif. 

Abu Sufyan tahu betul bahwa kaum muslimin tidak 

akan tinggal diam dan mereka segera mengirimkan 

jawaban atas pengkhianatan ini. Abu Sufyan pun 

berharap bisa bertemu dengan Rasulullah saw. di 

Madinah dan meminta maaf atas aksi tersebut.

Masih di hadapan Rasulullah saw., Abu Sufyan 

meminta agar beliau tetap mau memegang perjanjian 

Hudaibiyah. Akan tetapi, beliau menampik permintaan 

itu, sehingga Abu Sufyan kembali ke Makkah dengan 

kecewa. 

Segera Rasulullah saw. memerintahkan pasukannya 

untuk siaga. Sebanyak 10.000 lasykar muslimin 

menyatakan siap sedia untuk mengambil bagian dalam 

peperangan selanjutnya. Beliau menugaskan sejumlah 

prajurit agar berjaga-jaga di sekeliling kota untuk 

mencegah siapa saja yang hendak meninggalkan kota 

dan meyebarkan berita kepada kafir Quraisy dalam hal 

ini. 

Tetapi, seorang pengkhianat keji bernama Hatib 

membocorkannya kepada kaum musyrik Makkah. 

Dengan dalih risau akan keselamatan keluarganya, Hatib 

mengutus seorang kurir wanita untuk menyebarkan 

berita ini. 

Niat busuknya segera diketahui. Surat yang berisi 

bocoran tentang persiapan kaum muslimin berhasil 

digeledah. Rasulullah saw. memerintahkan seluruh kaum 

muslimin untuk melakukan pemboikotan sosial terhadap 

Hathib, si pengkhianat Islam. Sesungguhnya hukuman 

boikot itu lebih berat daripada hukuman mati. 

Pada hari ke-10 Ramadhan tahun ke-8 H, Rasulullah 

saw. memerintahkan pasukannya dan sebagian kaum 

muslimin untuk bergerak cepat. Mereka harus sampai di 

kota Makkah dalam waktu satu minggu. Beliau beserta 

pasukan dan seluruh kaum muslimin yang menyertai 

beliau mendirikan tenda di dekat kota Makkah.

Rasulullah saw. memberikan komando kepada 

pasukan muslimin untuk berpencar pada malam hari dan 

menyalakan api unggun di mana-mana. Pihak musuh 

berfikir bahwa sebuah pasukan besar telah tiba dari 

Madinah. Musuh pun menjadi ketakutan. Mereka 

menyangka bahwa pasukan dalam jumlah raksasa akan 

menyerang. 

Malam harinya, gurun di sekeliling kota Makkah 

menjadi terang benderang dengan nyala api unggun di 

mana-mana. Suara riuh dan slogan-slogan kaum 

muslimin berkumandang, unta-unta dan kuda-kuda 

meringkik. Ketika Abu Sufyan beserta sekelompok 

Quraisy menyaksikan hal ini, ia merinding ketakutan. Ia 

menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia tidak pernah 

menyaksikan pasukan sebesar ini selama hidupnya. 

Dari sana, Abu Sufyan menjumpai Abbas bin Abdul 

Muthalib untuk meminta pendapatnya. Dengan maksud 

untuk berdamai, Abbas membawanya datang untuk 

menemui Rasulullah saw., sang panglima tertinggi kaum 

muslimin. 

Demi kemaslahatan dan kejayaan Islam, Rasulullah 

saw. mengatakan kepada Abu Sufyan agar dapat 

meyakinkan penduduk kota Makkah, bahwa siapa saja 

yang mencari perlindungan hendaknya memasuki rumah 

Abu Sufyan. Setelah mendengar pandangan Rasulullah 

saw., ia bertolak kembali ke Makkah dengan membawa 

ampunan dari beliau. 

Sesampainya di Makkah, Abu Sufyan mengingatkan 

warga kota bahwa kaum muslimin akan datang dengan 

pasukan raksasa. Untuk menghindari pertumpahan darah, 

maka sebaiknya mereka menyerah dan membiarkan 

kaum muslimin memasuki kota Makkah.

Akhirnya kota Makkah dapat dikuasai dengan damai 

tanpa adanya pertumpahan darah. 

Pengampunan Umum 

Sekelompok kaum muslimin, khususnya para 

pengungsi yang pernah diperlakukan secara kejam oleh 

Quraisy, berniat menuntut balas terhadap orang-orang 

Makkah yang menyiksa dan mengusir mereka dari kota. 

Akan tetapi, Rasulullah saw. mengumumkan 

"Pengampunan Umum" untuk warga Makkah, bahkan 

untuk mereka yang telah melakukan penyiksaan dan 

pengusiran terhadap kaum muslimin. 

Setelah merobohkan semua patung dan berhala satu 

persatu, Rasul saw. memerintahkan Bilal untuk menaiki 

Ka'bah dan mengumandangkan gema Tauhid di atasnya: 

"Allahu Akbar, 

"La ilaha illallah, 

"Muhammad rasulullah". 

6. Perang Hunain 

Setelah kejatuhan pusat kekuatan kaum musyrikin di 

tangan kaum muslimin, para penyembah berhala itu tetap 

diperbolehkan tinggal di sekeliling Ka'bah. Mereka 

merasa malu dan bagitu ketakutan. Oleh karena itu, 

mereka mengundang kabilah masing-masing untuk 

berkumpul. 

Mereka memutuskan bahwa untuk mengalahkan kaum 

muslimin, hendaknya mereka bersekutu dalam 

menghancurkan pasukan muslimin itu. Dalam pertemuan itu, diputuskanlah kepala kabilah Hawazan sebagai 

panglima mereka. 

Mendengar berita ihwal pertemuan itu, Rasulullah 

saw. mengirimkan seorang mata-mata untuk mengintai 

keadaan musuh dan mencari informasi tentang 

kesepakatan perang yang ditandatangani oleh kabilah-

kabilah itu. Mata-mata itu berhasil mendapatkan 

informasi dan segera melaporkannya kepada beliau. 

Persiapan Menjelang Perang Hunain 

Mendapatkan berita tentang rencana penyerangan 

tersebut, Rasulullah saw. tidak tinggal diam. Panglima 

besar kaum muslimin itu segera memerintahkan 

pasukannya untuk bersiaga dan bergerak menuju lembah 

Hunain. Para pejuang itu bergerak pada 5 Syawal tahun 8 

H. 

Malik, panglima tentara kafir, mengutus tiga orang 

prajuritnya untuk memata-matai pasukan muslimin. 

Mereka menyaksikan kehebatan pasukan muslimin dan 

melaporkan hasil pengintaiannya itu kepada Malik. Ia 

merasa bahwa mereka tidak memiliki daya untuk 

menghadapi pasukan muslimin. Ia lalu memerintahkan 

pasukannya untuk menaiki bukit yang berada di lembah 

itu, sehingga mereka mendapatkan posisi yang strategis. 

Dari puncak bukit itu mereka berencana untuk 

menyergap jika pasukan musuh terlihat. 

Pasukan muslimin tiba di lembah Hunain pada malam 

Selasa tanggal 10 Syawal. Pasukan Islam beristirahat di 

tempat itu. Rencananya, mereka akan bergerak 

memasuki lembah Hunain pada subuh hari.

itu, diputuskanlah kepala kabilah Hawazan sebagai 

panglima mereka. 

Mendengar berita ihwal pertemuan itu, Rasulullah 

saw. mengirimkan seorang mata-mata untuk mengintai 

keadaan musuh dan mencari informasi tentang 

kesepakatan perang yang ditandatangani oleh kabilah-

kabilah itu. Mata-mata itu berhasil mendapatkan 

informasi dan segera melaporkannya kepada beliau. 

Persiapan Menjelang Perang Hunain 

Mendapatkan berita tentang rencana penyerangan 

tersebut, Rasulullah saw. tidak tinggal diam. Panglima 

besar kaum muslimin itu segera memerintahkan 

pasukannya untuk bersiaga dan bergerak menuju lembah 

Hunain. Para pejuang itu bergerak pada 5 Syawal tahun 8 

H. 

Malik, panglima tentara kafir, mengutus tiga orang 

prajuritnya untuk memata-matai pasukan muslimin. 

Mereka menyaksikan kehebatan pasukan muslimin dan 

melaporkan hasil pengintaiannya itu kepada Malik. Ia 

merasa bahwa mereka tidak memiliki daya untuk 

menghadapi pasukan muslimin. Ia lalu memerintahkan 

pasukannya untuk menaiki bukit yang berada di lembah 

itu, sehingga mereka mendapatkan posisi yang strategis. 

Dari puncak bukit itu mereka berencana untuk 

menyergap jika pasukan musuh terlihat. 

Pasukan muslimin tiba di lembah Hunain pada malam 

Selasa tanggal 10 Syawal. Pasukan Islam beristirahat di 

tempat itu. Rencananya, mereka akan bergerak 

memasuki lembah Hunain pada subuh hari.

Pihak musuh yang telah siaga menyambut kedatangan 

mereka dengan bersembunyi di balik ilalang. Setelah 

melihat musuh menampakkan diri, mereka lalu 

menyergap dari empat arah. 

Di tengah kegelapan malam, kuda-kuda yang 

ditunggangi pasukan muslimin itu membuat kegaduhan. 

Kegaduhan ini menjadi ramai oleh sekitar 2.000 muallaf 

(muslim baru). Para muallaf itu melarikan diri, dipimpin 

oleh Khalid bin Walid. Pelarian diri itu telah membuat 

musuh menjadi tambah semangat untuk 

menceraiberaikan pasukan muslimin. 

Hanya 10 orang sahabat yang bersiaga di samping 

Rasulullah saw. Merekalah yang membela beliau dari 

ancaman pedang musuh. beliau memerintahkan mereka 

untuk lari mencari pertolongan. Abbas berteriak dengan 

suara lantang, memanggil sahabat-sahabat yang 

melarikan diri itu. Musuh yang pada awalnya meraih 

kemenangan itu, lambat laun menjadi lemah akibat 

kembalinya pasukan muslimin yang melarikan diri tadi. 

Walhasil, benteng pertahanan musuh dihancurkan. 

Musuh lari tunggang langgang meninggalkan peralatan 

tempur mereka. Rasulullah saw. memerintahkan 

beberapa orang sahabat untuk mengejar musuh yang 

melarikan diri sehingga mereka menjadi tidak berdaya. 

Maksud pengejaran ini adalah agar tidak tersisa lagi 

musuh yang bisa melakukan perlawanan militer di 

kemudian hari. 

Para sahabat yang mengejar musuh itu berhasil 

menunaikan tugas mereka. Atas keberhasilan pasukan 

muslimin menaklukkan musuh, Rasulullah saw. 

kemudian membagikan harta rampasan perang kepada 

kaum muslimin.

36 

7. Perang Tabuk 

Pada bulan Rajab tahun ke-9 H, Rasulullah saw. 

menerima laporan bahwa kaum muslimin yang 

bermukim di barat daya perbatasan Arabia, mendapat 

ancaman dari kekaisaran Romawi dan bermaksud untuk 

menyerang wilayah-wilayah Islam. 

Setelah mempersiapkan pasukan, Rasulullah saw. 

mengumumkan rencananya kepada khalayak ramai. Cara 

ini berbeda dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat 

sebelumnya. Dahulu, beliau merahasiakan niatnya. Kali 

ini beliau memberitahukan kepada khalayak secara 

terbuka. 

Masyarakat mempersembahkan segala sesuatu yang 

diperlukan oleh pasukan muslimin. Mereka dengan 

antusias dan penuh semangat mengorbankan harta, 

bahkan kaum wanita merelakan simpanan perhiasan 

mereka untuk digunakan dalam peperangan. 

Makar Kaum Munafik 

Bersamaan dengan bergeraknya pasukan muslimin, 

orang-orang munafik mulai menebarkan hasutan, 

menciptakan semangat anti perang dan menanamkan rasa 

takut dalam diri pasukan muslimin akan kehebatan 

pasukan Romawi. 

Mereka melakukan berbagai cara, di antaranya ialah 

membangun sebuah masjid dengan nama "Masjid Dirar" 

sebagai pusat penyebaran propaganda anti perang itu.

37 

Mereka berharap agar orang-orang tidak ambil bagian 

dalam jihad itu. 

Syukurlah, berkat kesigapan dan ketegasan, Rasulullah 

saw. berhasil menggagalkan persekongkolan orang-orang 

munafik itu. 

Atas perintah Rasulullah saw, rumah tempat 

berkumpulnya orang-orang Yahudi dan kaum munafik 

itu dibakar oleh massa. Dengan cara demikian ini, 

persekongkolan yang mereka galang berhasil ditumpas. 

Persiapan Perang Tabuk 

Sebanyak 30.000 pasukan muslimin meninggalkan 

kota Madinah. Jumlah pasukan ini adalah yang terbesar 

dari yang sebelumnya. Rasulullah saw. sendiri yang 

menjadi panglima pasukan itu. Beliau memeriksa 

persiapan-persiapan pasukannya. Setelah itu, panglima 

muslimin itu berpidato di depan pasukannya. 

Beliau menunjuk Ali bin Abi Talib sebagai wali kota 

di Madinah selama kepergiannya beserta pasukan 

muslimin ke Tabuk. 

Mereka tiba di padang Tabuk yang panas membara 

setelah menempuh perjalanan sejauh 600 kilometer. 

Namun, mereka terkejut setibanya di tempat itu. Mereka 

tidak melihat tanda-tanda kedatangan pasukan Romawi. 

Sepertinya, pihak musuh telah mengetahui gerakan 

pasukan muslimin yang penuh semangat untuk mati 

syahid. Pemimpin Romawi memutuskan untuk menarik 

mundur pasukannya dari arah utara.

38 

Pasukan muslimin berdiam di Tabuk selama 20 hari 

sebelum kembali ke Madinah, tanpa terjadi pertempuran 

apa pun. 

Persekongkolan Kaum Munafik 

Sekembalinya dari Tabuk, sekelompok orang munafik 

memendam niat jahat terhadap Rasulullah saw. Mereka 

bermaksud untuk membunuh panglima orang-orang 

pencinta kebenaran itu. Kaum munafik yang ikut serta 

dalam perjalanan ke Tabuk itu hanyalah didorong oleh 

rasa takut kepada kaum muslimin lainnya. 

Mereka hendak menakut-nakuti unta tunggangan 

Rasulullah saw. dengan bersembunyi di balik bukit. Bila 

beliau terjatuh, mereka mudah membunuhnya. Tapi niat 

keji itu tersingkap dan membuat orang-orang munafik 

melarikan diri. Pasukan muslimin ingin segera 

menghabisi hidup kaum munafik itu, namun Rasulullah 

saw. meminta mereka untuk membiarkannya. 

Sekembalinya dari Tabuk, Rasulullah saw. 

memerintahkan kaum muslimin untuk menggusur Masjid 

Dhirar. Perintah ini beliau sampaikan setelah menerima 

wahyu dari Allah swt. 

Peperangan Tabuk merupakan unjuk kekuatan pasukan 

muslimin. Seluruh kaum muslimin mengambil bagian 

dalam pertempuran ini. 

Melihat kekuatan yang begitu besar, negara-negara 

tetangga dan orang-orang kafir menjadi enggan terlibat 

dalam persekongkolan untuk merongrong pemerintahan 

Islam.

39 

Pembersihan Orang-orang Kafir 

Hingga tahun ke-9 H, orang-orang kafir masih 

menunaikan ibadah Haji sesuai dengan kebiasaan nenek 

moyang mereka. Pada tahun yang sama, surat Al-Bara'ah 

atau At-Taubah diturunkan. 

Rasulullah saw. mempercayakan surat itu kepada Ali 

dibacakan di hadapan orang-orang kafir Makkah. Beliau 

memerintahkan Ali untuk menyampaikan, "Tidak 

diperbolehkan orang-orang kafir memasuki rumah suci 

Ka'bah, terhitung sejak hari ini. Dan mulai hari ini, tidak 

diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah di sekitar 

Ka'bah dengan telanjang". 

Sesuai perintah Rasulullah saw., Ali berangkat menuju 

Makkah dan membacakan surat Al-Bara'ah yang baru 

saja diturunkan, dan ditujukan kepada orang-orang kafir 

itu agar menghentikan kemusyrikan mereka. 

Di tengah para jemaah haji di sana, Ali menyerukan, 

"Wahai sekalian manusia, tidak akan ada orang kafir 

yang masuk surga, tidak akan ada orang musyrik yang 

berhaji setelah tahun ini, tidak akan ada orang telanjang 

yang bertawaf, dan siapa saja yang punya perjanjian 

damai dengan Rasulullah, maka ia punya kesempatan 

sampai berakhirnya masa perjanjian itu".

40 

Mubahalah (Saling Memohon Kutukan dari Allah 

swt.) 

Rasulullah saw. mulai mengirimkan surat kepada 

penguasa-penguasa yang ada di dunia. Beliau 

mengirimkan surat kepada keuskupan di Najran dan 

mengajak orang-orang Nasrani yang ada di sana untuk 

memeluk Islam. Bila menolak, mereka diharuskan untuk 

membayar jizyah (pajak) sebagai bentuk dukungan 

mereka kepada pemerintahan Islam. 

Sang uskup telah membaca ihwal kedatangan seorang 

nabi baru setelah Isa putra Maryam as. Dia juga 

mengetahui kedatangannya melalui Kitab Suci Nasrani 

(Injil). Kemudian dia segera mengirimkan utusan ke 

Madinah untuk membuktikan kebenaran berita itu. 

Sesampainya di Madinah, mereka memulai dialog 

dengan Rasulullah saw. Pada kesempatan itu, beliau 

menjelaskan ajaran-ajaran Islam yang lurus, sementara 

mereka menanyakan ihwal Nabi Isa Al-Masih as., 

"Apakah ia anak Allah ataukah anak Maryam? 

Rasul saw. menjawab, "Sesungguhnya Isa Al-Masih 

tidak lain adalah rasul Allah, sama seperti rasul-rasul 

yang telah mendahuluinya, dan ibunya adalah wanita 

tepercaya. Mereka berdua memakan makanan" (QS. Al-

Imran:59), "Dan ihwal Isa di sisi Allah seperti Adam 

yang telah diciptakan Allah dari tanah, lalu berkata 

kepadanya, 'Jadilah', maka terjadilah" (QS. Al-Imran: 

61). 

Namun, utusan Najran sebanyak 60 orang itu tetap saja 

menolak untuk beriman kepada Rasul saw.

41 

Malaikat Jibril as. turun menyampaikan wahyu dari 

Yang Maha Kuasa kepada Nabi saw. Dalam wahyu 

tersebut, Allah menyerukan beliau dan orang-orang 

Najran untuk bermubahalah, yakni memohon kepada 

Allah swt. agar mengutuk siapa yang sebenarnya 

berdusta. 

Ketika saat mubahalah itu tiba, Rasulullah saw. hanya 

membawa empat orang keluarganya dari Ahlul Bait: Ali, 

Fatimah, Hasan dan Husein. Sewaktu orang-orang 

Nasrani itu melihat beliau datang beserta rombongan 

pilihannya, pemimpin Nasrani itu berkata, "Demi Tuhan! 

Saya meyaksikan wajah-wajah mereka, yang jika mereka 

(orang-orang Nasrani) mengutuk Nabi bersama 

rombongannya, maka gurun sahara itu akan menjadi 

neraka dan akan meluas sampai ke wilayah Najran. 

Orang-orang Nasrani akan musnah oleh siksaan dan azab 

ini". 

Akhirnya, mereka setuju untuk membayar pajak. 

Diputuskan bahwa orang-orang Nasrani akan membayar 

sebanyak 2.000 Hullas (jubah) dan 30 busur panah 

kepada kaum muslimin.

42 

Haji Wada' (Perpisahan) 

Pada 25 Zulhijah tahun ke-10 Hijriah, Nabi saw. 

mengumumkan akan menunaikan haji tahun itu Beliau 

berpesan, bahwa siapa saja yang mau menyertainya 

segera mempersiapkan diri. 

Berita ini menciptakan semangat dan kegembiraan di 

kalangan kaum muslimin. Bersama Nabi saw., mereka 

mempersiapkan diri menyambut pesan beliau itu. Beliau 

menunjuk Abu Dujana sebagai wakil beliau di Madinah. 

Setelah itu, beserta sahabat-sahabat lainnya beliau 

bergerak menuju Makkah. 

Rasulullah saw. memulai pelaksanaan rukun ibadah 

haji di Zulhulaifah dan melantunkan Labbaik. Dari 

Zulhulaifah beliau bertolak menuju Makkah. 

Setelah sepuluh hari tiba di Makkah, Rasulullah saw. 

memasuki Masjidil Haram dan melaksanakan rukun-

rukun haji lainnya. Hari berikutnya, beliau 

menyampaikan pidato di Mina. Beliau bersabda, "Kita 

membutuhkan kemapanan dalam pemerintahan Islam".

43 

Ghadir Khum 

Selekas menunaikan ibadah haji, tepatnya pada hari 

Kamis, 18 Zulhijah, Rasul saw. tiba di dekat ladang 

Juhfa. Pada saat itu, Malaikat Jibril as. menyampaikan 

wahyu dari Tuhan yang harus beliau sampaikan. Segera 

Rasulullah saw. mengumpulkan para sahabat dengan 

mengatakan bahwa beliau akan mengumumkan suatu 

pesan yang sangat penting. 

Ratusan jamaah Haji berkumpul pada pelaksanaan 

acara pidato Rasulullah saw. Telinga mereka dipasang 

baik-baik untuk mendengarkan pesan yang akan 

disampaikan beliau, "Segala puji dan puja bagi Allah 

Yang Maha Kuasa. Hanya kepada-Nya kita meminta 

pertolongan dan keimanan, Dialah tempat tumpuan hajat 

manusia. Aku (Muhammad saw.) bersaksi bahwa tidak 

ada Tuhan selain Allah. Dan Muhammad adalah hamba 

dan utusan-Nya. 

"Wahai kaum muslimin! aku (Muhammad) segera 

meninggalkan kalian semua dan kutinggalkan dua wasiat 

yang berharga kepada kalian, yaitu Al-Qur'an dan Ahlul 

Baitku. Keduanya tidak akan terpisah satu sama lain 

sampai kalian menjumpaiku di telaga Kautsar (pada Hari 

Pengadilan). Oleh karena itu, jagalah mereka dan jangan 

kalian tinggalkan. Jika kalian tinggalkan wasiat ini, maka 

kalian akan binasa." 

Kemudian beliau meraih tangan Ali bin Abi Thalib 

dan mengangkatnya seraya bersabda: "Barang siapa yang 

menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah 

pemimpin kalian sepeninggalku. Ya Allah! cintailah 

orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah orang-

orang yang memusuhi Ali. Lindungilah orang-orang 

yang melindungi Ali dan binasakanlah orang-orang yang 

membinasakan Ali".

Detik-detik Terakhir 

Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan itu, 

Rasulullah saw. jatuh sakit. Sekelompok orang 

memanfaatkan keadaan, dan nabi-nabi palsu pun 

bermunculan. Setelah Rasulullah saw. mendengar berita 

ini, beliau memerintahkan untuk memerangi mereka. 

Suatu hari, Nabi saw. yang dalam keadaan payah 

dibantu oleh Ali bin Abi Thalib guna berziarah ke 

kuburan sahabat-sahabatnya yang telah gugur di 

pekuburan Baqi. Setelah itu, beliau meminta Ali untuk 

membawanya pulang. 

Hari demi hari berlalu, sakit Rasul saw. bertambah 

serius dan parah, hingga insan kamil itu menghembuskan 

nafasnya yang terakhir di pangkuan Ali. Manusia suci itu 

telah kembali menghadap kekasihnya Yang Mahakasih 

pada hari Senin 28 Safar tahun ke-11 H. Mangkatnya 

beliau menyebabkan dunia Islam berkabung dan 

berduka.[]



              Mutiara Hadis Rasulullah saw. 

1. "Seburuk-buruk manusia di hadapan Allah swt. 

adalah seorang alim yang tidak mengamalkan 

ilmunya dan tidak mengambil manfaat dari ilmu 

yang dimikinya". 

2. "Semulia-mulia rumah adalah rumah yang di 

dalamnya anak-anak yatim disantuni dengan kasih 

sayang dan cinta". 

3. "Orang-orang yang beriman pada Allah swt, Hari 

Akhir dan janji-janji Allah swt. hendaknya 

menunaikan amanat dan janjinya". 

4. "Tatapan seorang anak kepada orang tuanya karena 

kasih sayang adalah ibadah". 

5. "Sahabat yang berbudi luhur dan mulia sungguh 

lebih berharga daripada harta benda".