Riwayat Singkat Nabi Muhammad saw.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,kali ini saya akan membahas mengenai sejarah singkatnya Nabi Allah Muhammad saw. yang selalu kita nantikan syafaatnya di yaumil akhir aamiin aamiin Ya rabbal Alamin
1. Nama : Muhammad
2. Ayah : Abdullah bin Abdul Muthalib
3. Ibu : Aminah binti Wahab
4. Kelahiran : Makkah, Sabtu 17 Rabiul Awal, Tahun
Gajah
5. Wafat : Senin, 28 Safar 11 H
6. Makam : Madinah Al-Munawwarah
Sejarah nabi Muhammad SAW dari lahir hingga wafat
Satu-satunya rasul Allah yang diutus untuk semua ras dan golongan adalah
nabi Muhammad saw. Karena itu ajarannya sangat universal; tidak hanya tentang
ibadah dan keakhiratan, namun juga urusan-urusan diniawi yang mencakup semua
sisi kehidupan manusia, mulai dari masalah makan hingga urusan kenegaraan.
Namun demikian, masih banyak orang yang buta terhadap pribadi dan kehidupan
beliau. Akibatnya, mereka terhalang untuk melihat dan merasakan kebenaran yang
dibawanya. Pada lembaran ini penulis mencoba memperkenalkan Nabi Muhammad
saw secara singkat dari beberapa sisi, dengan harapan dapat bermanfaat dan
membantu kita semua.
1. Nama dan Gelar Nabi Muhammad Saw
Antara lain seperti disebutkan di dalam HR Bukhari dan Muslim: Ahmad, Mahi, Hasyir,
‘Aqib, Muqaffi, Nabiyyuttaubah, Nabiyyurrahmah.
2. Nasab Nabi Muhammad Saw
Di dalam buku Shahih Bukhari bab Mab’ats an-Nabiyyi saw, Imam Bukhari merincikan
silsilah nasab Nabi Muhammad saw sebagai berikut: Muhammad saw bin Abdullah bin
Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qusyai bin Kilab bin Murrah bin
Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin
Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin Adnan.
Imam Bukhari menambahkan di dalam Kitab Tarikh al-Kabir: Adnan bin Udud bin Al-
Maqum bin Nahur bin Tarh bin Ya’rab bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim. Menurut para
pakar – sebagaimana yang disebutkan oleh sejarawan Syekh Abdurrahman bin Yahya
Al-Yamany –antara Adnan dan Ismail ada sekitar 40 kakek.
3. Kelahirannya
Nabi Muhammad saw lahir di Makkah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun
Gajah dalam keadaan yatim. Penamaan tahun Gajah berkaitan dengan peristiwa
pasukan Gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman yang ingin
menghancurkan Ka’bah. Namun sebelum sampai ke kota Makkah, mereka diserang
oleh pasukan burung yang membawa batu-batu kerikil panas (lihat QS Al-Fil: 1-5).
Kelahiran nabi Muhammad saw bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi.
4. Masa Menyusui
Nabi Muhammad saw pertama kalinya disusui oleh ibunya Aminah dan Tsuwaibatul
Aslamiyah. Namun itu hanya beberapa hari. Selanjutnya beliau disusui oleh Halimah
As-Sa’diyah di perkampungan bani Sa’ad. Muhammad saw tinggal bersama keluarga
Halimah selama kurang lebih empat tahun.
Di akhir masa pengasuhan keluarga Halimah ini terjadi pembedahan nabi Muhammad
saw.
5. Muhammad Saw di Mata Penduduk Makkah
Sejak kecil Muhammad saw jauh dari tradisi-tradisi jahiliyah dan tidak pernah
melakukan penyembahan terhadap tuhan berhala. Namun demikian beliau tetaplah
seorang yang santun dan jujur, karenanya beliau terkenal dengan gelar Al-Amien
(orang yang terpercaya).
6. Pernikahan Nabi Muhammad Saw
Pada usia yang ke-25 tahun, Muhammad saw menikah dengan Khadijah binti
Khuwailid, seorang janda kaya berusia 40 tahun. Pernikahan ini diawali dengan
lamaran Khadijah kepada Muhammad saw setelah melihat dan mendengar kelebihan-
kelebihan dan akhlaknya.
7. Isteri-isteri Rasulullah Muhammad saw
Selain Khadijah, isteri-isteri beliau adalah: Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu
Bakar, Hafshah binti Umar, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah (Hindun binti
Umayyah), Zainab binti Zahsy, Juwairiyah binti Al-Harits, Ummu Habibah (Ramlah),
Shafiyah binti Huyay, Maimunah binti Al-Harits dan Maria Al-Qibtiyah. Nabi
Muhammad menikahi mereka semua setelah Khadijah meninggal dunia. Dan mereka
semua beliau nikahi dalam keadaan janda, kecuali Aisyah ra. Jika dilihat dari faktor
tiap pernikahan beliau, semuanya mempunyai hubungan yang kuat dengan dakwah
dan ajaran Islam yang dibawanya.
8. Anak dan Putrinya
Anak dan putri nabi Muhammad saw adalah: Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu
Kultsum, Fathimah, Abdullah dan Ibrahim. Mereka semua lahir dari rahim Khadijah
kecuali Ibrahim dari Maria Al-Qibtiah.
Anak-anak beliau yang laki-laki semuanya meninggal sebelum usia dewasa.
9. Muhammad Saw Menjadi Rasul Allah
Turunnya wahyu pertama QS. Al-A’la: 1-5 di gua Hira pada hari Senin di bulan
Ramadan pada usia yang ke 40 menjadi awal kerasulan Muhammad saw. Wahyu
pertama tersebut berisi: "1) Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, 2)
Yang menciptakan manusia dari segumpal darah, 3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang
Mahamulia, 4) Yang mengajari (manusia) dengan pena, 5) Dia mengajarkan manusia
apa yang tidak diketahuinya."
Setelah menerima wahyu tersebut, Muhammad saw pulang menemui Khadijah dan
mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dirinya. Khadijah menenangkan:
"Bergembiralah! Demi Allah, Dia tidak akan pernah menyia-nyiakanmu. Demi Allah,
engkau ini menghubungkan shilaturrahim (hubungan kerabat), berkata jujur,
menanggung beban orang lemah, membantu orang yang tidak punya, memuliakan
tamu, menolong orang-orang yang ditimpa bencana."
Khadijah lalu mempertemukannya dengan anak pamannya Waraqah bin Naufal,
seorang pendeta Nasrani. Setelah menjelaskan peristiwa yang baru dialaminya di gua
Hira, Waraqah menjelaskan bahwa yang datang kepada Muhammad saw itu adalah
malaikat yang pernah datang kepada nabi Musa.
"…Andai kata aku masih hidup dan kuat di saat engkau diusir oleh kaummu…" kata
Waraqah.
"Apakah mereka akan mengusirku?" Tanya Muhammad saw.
‘Ya…," jawabnya. (lihat HR Bukhari dan Muslim).
10. Nabi Muhammad Saw Hijrah ke Madinah
Nabi Saw hijrah ke Madinah pada tahun ke 13 kenabian yang bertepatan dengan
tahun 622 M. Di dalam riwayat Ibnu Ishak dijelaskan bahwa beliau keluar dari
rumahnya yang saat itu sedang dikepung oleh pasukan bersenjata kaum musyrik
Makkah yang ingin membunuhnya. Lalu Allah Swt menidurkan mereka. Sambil
membaca QS. Yasin: 1-9 beliau manaruh pasir di kepala mereka semua, kemudian
pergi ke rumah Abu Bakar untuk hijrah bersama ke kota Madinah.
Nabi Muhammad saw tiba di Madinah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun
1 Hijriyah.
11. Peperangan Nabi Muhammad Saw
Yang mendasari peperangan nabi Muhammad saw. adalah ayat-ayat berikut:
- "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya
mereka dizhalimi." (Al-Hajj: 39).
- "Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan
melampaui batas, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas"
(QS. Al-Baqarah: 190).
Dalam hal ini ada aturan-aturan perang, antara lain: Jangan membunuh anak-anak,
orang tua, orang yang menyerah, pendeta dan petugas rumah ibadah yang tidak
menyerang, hewan tanpa tujuan maslahat, jangan membunuh dengan cara yang
sadis dan berlebihan (Tafsir Ibnu Katsir).
Dari sini jelas bahwa peperangan nabi Muhammad saw adalah sebagai upaya
pembelaan terhadap hak, bukan wasilah untuk islamisasi apalagi balas dendam.
Adapun jumlah peperangan yang diikutinya ada sebanyak 27 kali.
12. Akhlak Nabi Muhammad Saw
Allah SWT menggambarkan akhlak nabi Muhammad secara umum di dalam QS. Al-
Qalam ayat 4: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur"
Sekedar contoh, penulis paparkan dua sisi dari akhlak beliau:
a. Kesabaran Nabi Muhammad Saw
Tidak sedikit beban yang ditanggung oleh nabi Muhammad saw dalam menyebarkan
dakwah ajaran yang dibawanya. Ejekan, makian, perlakuan kasar dan ancaman
pembunuhan diterimanya dari orang-orang musyrik Makkah. Namun itu semuanya
tak membuat kesabarannya luntur.
Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa Uqbah bin Abu Mu’ith
pernah mencampakkan kotoran onta kepada Rasulullah Muhammad saw sementara
beliau dalam keadaan sujud. Beliau terus sujud hingga putrinya Fathimah datang
membuangnya. Perlakuan kasar kaum Quraisy semakin bertambah setelah
pamannya Abu Thalib dan isterinya Khadijah meninggal dunia pada tahun 10
kerasulan. Karenanya beliau hijrah ke wilayah Thaif. Namun ternyata disini juga
beliau tidak diterima, malah penduduk setempat menyuruh anak-anaknya untuk
melemparinya dengan batu.
b. Kasih Sayang Nabi Muhammad Saw
Kasarnya tindakan pengusiran penduduk Thaif terhadap nabi Muhammad saw tidak
membuat beliau serta merta mendoakan mereka dengan azab. Tapi justru
sebaliknya: "Bahkan saya berharap agar Allah menjadikan dari keturunan mereka
orang-orang yang menyembah Allah dan tidak berbuat syirik kepada-Nya sedikit
pun," kata beliau saat malaikat penjaga gunung menawarkan kepadanya untuk
menimpakan gunung Abu Qubaisy dan gunung yang di sebelahnya kepada penduduk
Thaif. (Shahih Bukhari). Dan bagaimana pun juga kasarnya perlakuan dan azab dari
kaum musyrik penduduk Makkah kepadanya dan ummat pengikutnya, tapi itu tak
membuatnya dendam kepada mereka di saat pembebasan Makkah pada tahun 8 H.
Malah beliau saw memberikan amnesty besar-besaran kepada penduduk Makkah.
13. Keistimewaan yang Allah Berikan Kepadanya
a. Lima kelebihan yang tidak diberikan kepada orang sebelumnya
Dari Jabir bin Abdullah ra, nabi Muhammad saw bersabda: "Saya diberikan lima hal
yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelum saya; 1) saya diberi kemenangan
dengan rasa takut (yang ditimpakan kepada musuh-musuhku) dalam jarak satu bulan
perjalanan, 2) bumi dijadikan tempat shalat dan suci untukku, maka siapa pun di
antara ummatku yang mendapatkan waktu shalat hendaklah dia melakukannya, 3)
dihalalkan untukku harta ghanimah dan itu tidak dihalalkan kepada orang sebelum
saya, 4) saya diberi syafa’at, 5) dahulu nabi diutus hanya kepada kaumnya, tetapi
saya diutus kepada seluruh manusia." (HR. Bukhari dan Muslim)
b. Keistimewaannya di hari kiamat
Dari Anas ra., nabi Muhammad saw bersabda: "Saya adalah orang pertama yang
diberikan syafaat pada hari kiamat nanti, nabi yang paling banyak pengikutnya di hari
kiamat, dan orang pertama yang mengetuk pintu surga" (HR. Muslim).
Keistimewaan lainnya disebutkan di dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah saw
bersabda: "Saya adalah pemimpin anak-anak Adam pada hari kiamat nanti, saya
orang pertama yang dibangkitkan dari kubur, dan saya orang pertama yang diberi
syafaat (oleh Allah) dan orang pertama yang memberi syafaat (kepada ummat
manusia)." (HR. Muslim).
14. Ibadah Beliau
Aisyah ra. Berkata: Rasulullah saw pernah shalat hingga dua kakinya membengkak.
Lalu beliau ditegur, beliau menjawab: "Apakah aku tidak pantas menjadi hamba yang
bersyukur?"
15. Nabi Muhammad Saw Wafat
Beliau saw wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah di waktu Dhuha
dengan usia 63 tahun.
Sebelum ruhnya dicabut, beliau membaca:
َم َع اّلِذي َن َأْن َعَم ا ُّل َعَلْي ِه ْم ِم َن الّنِبّيي َن َوال ّصّديِقي َن َوال ّش َهَدا ِء َوال ّصاِل ِحي َن, الل ُهـّم اغِفـر لى وارحمنى وألحقنى بالرفيق العلى, اللهم الرفيق"
".العلى
Bangsa Quraisy
Bangsa Quraisy dipandang sebagai salah satu bangsa
yang dihormati dan disegani di antara bangsa-bangsa
yang ada di semenanjung Arabia. Quraisy sendiri terbagi
ke dalam berbagai suku. Bani Hasyim adalah salah satu
suku terhormat di antara suku-suku yang ada. Qushai bin
Kilab adalah nenek moyang mereka yang bertugas
sebagai penjaga Ka'bah.
Di tengah warga Makkah, Hasyim dikenal sebagai
orang yang mulia, bijaksana dan terhormat. Ia banyak
membantu mereka, memulai perniagaan pada musim
dingin dan musim panas supaya mereka mendapatkan
penghidupan yang layak. Atas jasa-jasanya, warga kota
memberinya julukan "sayyid" (tuan). Julukan ini secara
turun-temurun disandang oleh anak keturunan Hasyim.
Setelah Hasyim, kepemimpinan bangsa Quraisy
dipercayakan kepada anaknya yang bernama Muthalib,
kemudian dilanjutkan oleh Abdul Muthalib.
Abdul Muthalib adalah seorang yang berwibawa. Pada
masanya, Abrahah Al-Habasyi menyerbu Makkah untuk
menghancurkan Ka'bah. Namun berkat pertolongan
Allah swt., Abrahah dan pasukan gajahnya mengalami
kekalahan. Tahun penyerbuan itu kemudian dikenal
dengan nama Tahun Gajah. Dan sejak peristiwa itu,
nama Abdul Muthalib pun semakin terpandang di
kalangan kabilah Arab.
Abdul Muthalib mempunyai beberapa anak. Di antara
mereka, Abdullah-lah anak yang paling soleh dan paling
dicintainya. Pada usia 24 tahun, Abdullah menikah
dengan perempuan mulia bernama Aminah.
Dua bulan setelah Tahun Gajah, Aminah melahirkan
seorang anak. Ia memberinya nama Muhammad.
Sebelum kelahiran Muhammad, ayahnya Abdullah
meninggal dunia. Tak lama setelah melahirkan, sang ibu
pun menyusul suaminya kembali ke alam baka. Maka,
sejak awal kelahiran, Muhammad sudah menjalani
hidupnya sebagai anak yatim.
Setelah ditinggalkan oleh kedua orang tua yang
tercinta, Muhammad diasuh oleh sang kakek, Abdul
Muthalib. Berkat anugerah dan rahmat Allah swt.,
Muhammad tumbuh menjadi dewasa dengan kesucian
jiwa yang terpelihara.
Warga kota Makkah begitu mencintai Muhammad,
bahkan merelakan barang-barang mereka di bawah
pengawasannya. Atas kejujuran dan sifat amanah yang
ditunjukkannya, mereka memberinya gelar "Al-Amin",
yakni orang yang tepercaya.
Dengan bekal iman yang teguh, Muhammad
membantu orang-orang fakir, membela orang-orang yang
tertindas, membagikan makanannya kepada orang-orang
yang lapar, mendengarkan keluhan-keluhan mereka, dan
berusaha memberikan jalan keluar atas masalah-masalah
yang mereka hadapi.
Ketika beberapa orang pemuda menggalang sebuah
gerakan yang dikenal dengan nama "Sumpah Pemuda"
(Hilful Fudhul), segera Muhammad pun bergabung
bersama mereka, karena gerakan itu sejalan dengan
perilaku luhur dan tujuannya.
Pada suatu waktu, Abu Thalib, paman Muhammad,
menganjurkannya untuk ikut berniaga dengan kafilah
dagang Khadijah, seorang wanita Makkah yang kaya dan terhormat. Kemudian, Muhammad pun ditunjuk untuk
memimpin kafilah dagang tersebut.
Selama bergabung dalam kafilah dagangnya, Khadijah
menyaksikan dari dekat kejujuran, keteguhan, dan
keutamaan perilaku Muhammad. Tak segan lagi
Khadijah melamarnya. Muhammad menerima lamaran
itu. Dan tak lama kemudian, mereka pun melangsungkan
pernikahan.
Dari perhikahan itu, mereka dikaruniai seorang anak
perempuan yang diberi nama Fatimah, yang dari
keturunannya lahirlah manusia-manusia suci.
Hajar Aswad (Batu Hitam)
Sepuluh tahun setelah pernikahan itu, banjir besar
melanda kota Makkah yang merusak sebagian besar
bangunan Ka'bah. Warga kota bermaksud untuk
memperbaikinya.
Untuk mencegah pertikaian yang bakal terjadi,
perbaikan itu dilakukan oleh berbagai suku yang ada di
kota secara gotong royong. Namun, tatkala perbaikan
telah selesai, tibalah saatnya untuk meletakkan Hajar
Aswad. Ketika itu, masing-masing bangsa mengaku
paling berhak untuk meletakkan batu itu.
Perang hampir saja terjadi. Tiba-tiba Muhammad
muncul memberi sebuah usulan, dengan menanggalkan
jubahnya dan meletakkan Hajar Aswad tepat di tengah-
tengahnya, lalu setiap kepala suku memegang tepi jubah
itu, lantas membawanya bersama-sama ke tempat
asalnya.
Wahyu Pertama
Menginjak usia 40 tahun, Muhammad diangkat
sebagai nabi. Suatu hari, ketika beliau sedang melakukan
ibadah di gua Hira, datanglah Malaikat Jibril as.
membawa wahyu dari Allah dan menyapanya, "Iqra!"
"Bacaralah dengan nama Tuhanmu yang telah
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
gumpalan darah. Bacalah bersama Tuhanmu Yang
Mahamulia. Dialah yang mengajarkan ilmu dengan pena.
Dialah yang telah mengajarkan kepada manusia akan
segala yang tidak diketahuinya."
Sejak itu, Muhammad terpilih untuk mengemban
risalah Allah sebagai Rasulullah saw. di tengah umat
manusia di seluruh dunia.
Di awal-awal kenabian, Muhammad saw. berdakwah
secara rahasia. Pada saat itu, hanya beberapa orang yang
mau menerima Islam. Orang pertama yang mengakui
Muhammad sebagai Rasulullah saw. ialah istri beliau
Khadijah, kemudian sepupunya Ali bin Abi Thalib.
Tiga tahun lamanya Islam terus menyebar di kalangan
rakyat miskin kota Makkah. Setelah itu, Allah swt.
memerintahkan Rasulullah saw. untuk melakukan
dakwah secara terang-terangan, mengajak manusia
menyembah Tuhan Yang Esa dan memulai perang suci
melawan para penyembah berhala.
Tugas dakwah merupakan tugas yang penuh resiko dan
bahaya. Sebab, para pemuka kabilah telah sekian lama
larut dalam kenikmatan berupa kedudukan dan
menjadikan orang-orang sebagai budak mereka.
Mereka khawatir bahwa dakwah Rasulullah saw. akan
merongrong kekuasaan mereka. Selain itu, tugas dakwah
menjumpai kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaannya,
karena berhala-berhala itu telah lama dijadikan
sesembahan oleh mereka.
Rasulullah saw. tidak mengenal toleransi. Beliau
memilih untuk memikul tugas ini demi mengesakan
Tuhan dan menegakkan undang-undang Tauhid di muka
bumi.
Masyarakat yang sebelumnya menghormati dan santun
terhadap Nabi saw, kini berbalik membenci dan
memusuhi dakwah beliau dengan harta. Namun usaha
mereka gagal.
Kemudian, permusuhan mereka berlanjut dengan
menyiksa dan menjarah harta-harta milik Nabi saw.
Namun, usaha mereka ini pun tidak berhasil untuk
menahan laju dakwah suci beliau.
Kaum kafir Makkah tidak pernah lelah untuk
mengubah pendirian Rasulullah saw. Mereka
meningkatkan permusuhannya dan mengusir beliau
beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya keluar dari
Makkah, lalu mengurungnya di ladang Abu Thalib,
hingga sebagian mereka yang bersama Rasul di
dalamnya mati kelaparan.
Mereka bahkan memperketat pengurungan ladang itu
sehingga makanan dan minuman tidak dapat ditemui
oleh Nabi beserta pengikutnya yang setia. Beberapa
penduduk yang ikut Nabi mempertaruhkan hidupnya
untuk menyelundupkan makanan dari kota di kegelapan
malam.
Waktu berlalu begitu cepat. Kaum kafir menyerah
pada tekad dan kegigihan yang ditunjukkan oleh kaum
muslimin. Mereka memutuskan untuk membunuh
Rasulullah saw.
Untuk itu, mereka memilih pemuda-pemuda terkuat
dari kalangan keluarga dan suku mereka dengan
memberikan upah yang besar kepada siapa yang berhasil
membunuh beliau. Mereka memutuskan untuk
menyergap kediaman Nabi saw. pada malam hari.
Hijrah ke Madinah
Rencana keji itu diketahui oleh Rasulullah saw.
melalui wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril as.
Beliau memilih sepupunya Ali bin Abi Thalib untuk
menggantikannya tidur di atas ranjang beliau dengan
mempertaruhkan hidupnya demi keselamatan beliau.
Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah di
kegelapan malam. Kaum musyrikin telah berkumpul
untuk membunuh Nabi saw. Betapa terkejutnya mereka,
tatkala mendapati Ali di atas ranjang Rasul saw. Mereka
segera mengejar beliau. Namun pengejaran itu gagal.
Mereka pun kembali ke Makkah dengan tangan hampa.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Nabi
saw. tiba di Quba, sebuah tempat di dekat kota Madinah.
Penduduk desa menyambut kedatangan beliau. Dengan
suka cita beliau berencana membangun tempat salat dan
menyusun tugas-tugas dakwah.
Pembangunan masjid Quba berjalan lancar. Nabi saw.
turun langsung dalam menyelesaikan pembangunannya.
Sesudah itu, beliau melakukan salat Jum'at dan berdiri
sebagai khatib. Inilah salat Jum'at yang pertama kali
dilaksanakan oleh beliau.
Rasulullah saw. menetap di Quba untuk beberapa saat
sambil menyampaikan ajaran-ajaran Allah. Di sana pula
beliau menantikan kedatangan Ali yang ditinggalkannya
di kota Makkah untuk menunaikan titipan dan amanat
kepada pemiliknya masing-masing. Hingga akhirnya Ali
pun datang ke Quba bersama kaum wanita keluarga Bani
Hasyim. Rasulullah saw. memasuki kota Yastrib. Sejak saat itu
pula nama kota itu berubah menjadi Madinatur-Rasul
atau Madinah Al-Munawarah. Penduduk kota
menyambut beliau dan sebagian kaum Muhajirin yang
menyertainya dengan begitu hangat dan meriah. Setiap
penduduk berlomba meminta beliau untuk duduk di
rumah mereka. Kepada mereka semua, beliau berkata:
"Berilah jalan kepada untaku ini. Aku akan menjadi tamu
orang yang di depan pintunya unta ini berhenti".
Si unta berjalan dan melintasi jalan-jalan kota
Madinah, hingga ia menghentikan langkahnya dan
bersila di depan pintu rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Di
rumah itulah Rasulullah saw. dijamu.
Sesampainya di Madinah, pertama yang dilakukan
oleh Rasulullah saw. ialah pembangunan masjid sebagai
pusat dakwah dan pengajaran. Nabi juga segera
menyerukan perdamaian serta persaudaraan antara dua
bangsa; Aus dan Khazraj, yang telah berperang selama
bertahun-tahun akibat hasutan yang dilancarkan oleh
orang-orang Yahudi Madinah.
Dalam rangka mengikis habis akar-akar pembeda
antara kaum Muhajirin yang datang dari Makkah dan
kaum Anshor sebagai penduduk asli Madinah,
Rasulullah saw. mempersaudarakan mereka satu persatu,
sehingga kaum Muhajirin tidak menjadi beban kaum
Anshor di kemudian hari dan mereka dapat hidup
bersama dengan rukun dan damai.
Orang-orang Yahudi Madinah memandang
persaudaraan itu dengan penih kedengkian. Mereka
selalu berusaha menyulut semangat perpecahan di
kalangan kaum muslimin. Sementara Rasulullah saw. memadamkan api pertikaian, mereka malah giat
mengobarkannya.
Peralihan Kiblat
Pada awalnya, Rasulullah saw. melakukan solat dan
ibadah ke arah Masjid Al-Aqsa di Jerusalem (Palestina).
Itu berlanjut selama 13 tahun di Makkah dan 17 bulan di
Madinah.
Kaum Yahudi pun menghadap masjid Al-Aqsa dalam
solat-solat mereka. Karena ini pula mereka selalu
mencemooh kaum muslimin, "Jika benar kami dalam
kesesatan, lalu mengapa kalian mengikuti kiblat kami?!".
Hingga pada suatu hari, turunlah wahyu yang
memerintahkan Rasulullah saw. agar kaum muslimin
menghadap Ka'bah Masjidil Haram dalam setiap solat
mereka.
Perintah ini sungguh memukul kaum Yahudi. Mereka
bertanya-tanya tentang sebab peralihan kiblat kaum
muslimin. Mereka tidak sadar bahwa peralihan kiblat ini
merupakan ujian bagi kaum muslimin sendiri, sehingga
dapat dikenali siapa yang taat dan siapa yang menentang
Rasulullah saw.
Peperangan Rasulullah saw.
1. Perang Badar
Rasulullah saw. mengadakan perjanjian gencatan
senjata dengan kabilah-kabilah tetangga guna melindungi
kota Madinah dari segala ancaman makar dan
penyerangan.
Sementara itu, Quraisy Makkah melakukan penjarahan
atas harta-harta umat Islam di kota itu. Rasulullah saw.
pun berpikir untuk merebut kembali harta-harta itu dari
mereka. Untuk itu, beliau memutuskan untuk menyerang
kafilah-kafilah pedagang kafir Quraisy.
Demikianlah awal meletusnya bentrokan senjata antara
kaum muslimin dan kaum musyrikin di suatu tempat
dekat sumur Badar. Oleh karena ini, peperangan pertama
di antara mereka ini dinamai Perang Badar.
Kaum muslimin mampu memenangkan peperangan itu
secara gemilang. Nama mereka pun mulai terpandang
dan disegani di semenanjung Arabia.
2. Perang Uhud
Bagi kaum musyrik Quraisy, kemenangan kaum
muslimin pada perang Badar itu malah membuat hati
mereka terbakar kemarahan. Tak ayal lagi, Abu Sufyan
mulai mengitung hari untuk melancarkan pembalasan
dendam. Bahkan ia melarang perempuan-perempuan
Quraisy menangisi korban perang Badar, supaya api
dendam tetap membara di dalam jiwa-jiwa mereka.
Sementara di Madinah, kemenangan gemilang kaum
muslimin meresahkan kaum Yahudi. Segera mereka
mendekati orang-orang Quraisy dan menghasut mereka
untuk menuntut dendam atas kaum muslimin.
Dalam rangka itu, salah seorang Yahudi bernama
Ka'ab bin Asyraf bertolak ke Makkah. Setibanya di sana,
ia membacakan syair-syair dan mengulang-ulangnya,
hanya untuk membakar emosi kaum Quraisy.
Hasilnya, kaum Quraisy mengadakan pertemuan di
Darun Nadwah, dan sepakat dendam mereka untuk
menyerang Madinah. Di sana mereka pun menghitung
biaya yang akan dikeluarkan pada pertempuran
mendatang. Biayanya ditaksir mencapai 50.000 Dinar.
Sejak itu, mereka mulai mempersiapkan persenjataan dan
meminta bantuan dari kabilah-kabilah yang bermukim di
sekitar Makkah.
3000 pasukan Quraisy bersenjata lengkap bertolak ke
Madinah melalui padang sahara. Abu Sufyan menjadi
panglima perang dan Khalid bin Walid memimpin
pasukan.
Abbas bin Abdul Muthalib yang merahasiakan
keislamannya mengirimkan kurir untuk menyampaikan
pesan ihwal rencana penyerangan itu.
Setelah menerima pesan dari pamannya, Rasulullah
saw. segera mengadakan musyawarah yang menyepakati
untuk menyambut lawan di luar kota.
7 Syawal tahun ke-3 Hijriah, tepatnya pada hari sabtu
pagi, pasukan kaum muslimin bergerak meninggalkan
Madinah menuju gunung Uhud. Atas perintah Rasulullah
saw, mereka mendirikan tenda-tenda tidak jauh dari
barisan musuh.
Rasulullah saw. menempatkan Abdullah bin Jabir
bersama 50 orang lainnya yang dilengkapi busur dan
anak panah untuk berada di atas bukit. Beliau
memperingatkan mereka untuk tidak beranjak dari
puncak bukit itu betapapun resiko yang akan
menghadang, apakah menang atau kalah dalam
peperangan. Setelah itu, pasukan yang membawa
bendera Tauhid dan pasukan yang mengusung bendera
Syirik berhadapan satu sama lainnya. Pertempuran itu
dimulai oleh Abu Umair dari Quraisy.
Pada awal-awal pertempuran, tentara Islam bertarung
dengan gagah berani dan membuat pasukan kafir hampir
saja kalah. Namun kemudian, keadaan justru berbalik.
Pasukan panah yang mengawasi medan perang itu
melihat saudara-saudaranya memukul mundur pasukan
musuh. Mereka pun turun meninggalkan bukit untuk
memungut ghanimah (harta rampasan perang). Mereka
lalai terhadap perintah Rasulullah saw. untuk tidak
beranjak dari posisi mereka.
Khalid bin Walid memanfaatkan kelengahan kaum
muslimin. Ia dan pasukannya berbalik mengitari gunung
kemudian menyerang kaum muslimin yang sedang sibuk
mengumpulkan ghanimah itu dari arah belakang. Banyak
pasukan Islam tewas karena ketidaktaatan sebagian
mereka kepada Rasulullah saw. Ada sekitar 70 pejuang
kaum muslimin syahid, ada pula yang melarikan diri dari
medan pertempuran.
Perang berakhir dengan kemenangan berada di pihak
musuh. Rasulullah saw. dapat diselamatkan berkat
kesetiaan Ali bin Abi Thalib serta bantuan pasukan
muslimin lainnya. Bersama mereka, Ali berhasil
mengejar dan membunuh beberapa tentara musuh.
Dengan kegigihan mereka, kota Madinah selamat dari
penyerbuan kaum kafir itu. Namun demikian, perang
Uhud ini telah memberikan pelajaran ketaatan dan
kesetiaan yang tak terlupakan oleh kaum muslimin.
3. Perang Khandaq
Orang-orang Yahudi yang terusir dari Madinah akibat
permusuhan dan pengkhianatan mereka sendiri, tidak
tinggal diam melihat keadaan kaum muslimin.
Pemimpin mereka melakukan pendekatan dengan
pemimpin-pemimpin Quraisy di Makkah, sambil
melancarkan hasutan supaya mereka mengadakan
perlawanan terhadap kaum muslimin. Pemimpin Yahudi
itu berjanji untuk menyokong bangsa Quraisy dengan
segala kekuatan yang ada.
Sebagai hasil dari pendekatan ini, berbagai bangsa,
suku dan kelompok bersekutu untuk mengangkat senjata
melawan umat Islam. Oleh karena itu, peperangan ini
dikenal sebagai perang Ahzab, yaitu perang gabungan
beberapa bangsa melawan Islam.
Pasukan bersenjata mereka terdiri dari kaum kafir
Quraisy, kaum Yahudi, orang-orang munafik dan
pengkhianat Islam dari Madinah. Mereka bertekad bulat
untuk menghancurkan Islam.
Pada bulan Syawal tahun ke-5 Hijriah, sebanyak
10.000 pasukan sekutu itu berangkat menuju Madinah.
Di depan mereka adalah Abu Sufyan sebagai panglima
perang pasukan sekutu.
Beberapa pasukan berkuda dari kabilah Khuza'i
memasuki kota Madinah dan melaporkan keadaan musuh
kepada panglima besar kaum muslimin, Rasulullah saw.
Rasulullah saw. memerintahkan pasukannya untuk
bersiaga dan para komandan diminta berkumpul untuk
memusyawarahkan segala sesuatu yang diperlukan.
Dalam musyawarah itu, sahabat Rasulullah saw,
Salman Al-Farisi, mengusulkan untuk menggali parit di
sekeliling kota Madinah dan kaum muslimin berlindung
di balik galian parit itu. Usulan itu diterima secara
mufakat. Maka, sebanyak 3.000 sukarelawan Islam
bekerja siang dan malam untuk menggali parit sedalam 5
meter, selebar 6 meter, dan sepanjang 12.000 meter.
Beberapa jalur dan jembatan dibuat di atas parit dan
beberapa penjaga ditugasi untuk mengawasi kedatangan
pasukan musuh. Di balik parit, dibangun pos-pos
pertahanan yang di atasnya dijaga oleh pasukan
pemanah.
Pasukan kaum musyrikin pun tiba. Mereka melihat
galian parit mengelilingi kota yang menyulitkan mereka
untuk melintasi dan menyerang orang-orang di seberang
parit.
Abu Sufyan segera memanggil Hayy bin Ahthab,
pemimpin Yahudi dari Bani Nadhir, dan memintanya
untuk menemui Ka'ab bin Asad, pemimpin Yahudi dari
Bani Quraizhah yang sedang bermukim di dalam
Madinah. Ka'ab bin Asad diminta untuk membuka
lapang jalan orang-orang Yahudi. Makar ini
dimaksudkan agar orang-orang musyrikin itu dapat menyusup ke dalam kota melalui jalan tersebut lalu
menyerang kaum muslimin.
Cara licik Abu Sufyan ini telah diketahui sebelumnya.
Rasulullah saw. telah mengambil langkah-langkah
pencegahan dengan menugaskan 500 prajurit untuk
berpatroli di sekeliling kota. Prajurit itu ditugasi untuk
memelihara kota agar stabil dalam keadaan siaga dan
waspada. Mereka mewaspadai orang-orang yang datang
dan pergi dari kota. Dengan langkah pencegahan ini,
persekongkolan warga kota dengan pihak musuh dapat
diatasi.
Ancaman bahaya serangan dari dalam kota berhasil
digagalkan dan pasukan sekutu itu tetap pada posisi
mereka di seberang parit. Mereka tidak berhasil
mengecoh kaum muslimin.
Hingga tibalah suatu hari, lima orang gagah berani dari
pihak musuh melintasi parit. Kelima orang gagah berani
itu dipimpin oleh Amr bin Abdi Wud. Di atas kudanya ia
berteriak lantang, "Hai orang-orang yang mengaku
penghuni Surga, di mana kalian semua? Majulah,
sehingga aku dapat mengirim kalian ke Surga".
Tidak satu pun dari kaum muslimin yang menjawab
tantangan itu, kecuali Ali bin Abi Thalib. Ia begitu cepat
bangkit dan maju mendekati orang itu. Dan setelah saling
adu tantangan, Ali mengayunkan pedangnya dengan
sekali tebasan ke atas kepala Amr. Setelah Amr
tersungkur tewas, Ali mengumandangkan takbir, "Allahu
Akbar!" .
Salah satu kawan Amr bin Abdi Wud melarikan diri
dan terjatuh ke dalam parit. Ali tidak memberikan
kesempatan kepada lawan dan segera menghabisinya. Sedangkan ketiga sahabat Amr yang lain berhasil
melarikan diri dari kejaran Ali.
Peristiwa di atas ini begitu menggugah keimanan dan
keberanian umat Islam, sebagaimana yang dikatakan
Rasulullah Saw., "Sekali tebasan pedang Ali jauh lebih
sebanding dengan ibadah 70 tahun seluruh manusia dan
jin".
Demi menjaga semangat pasukannya, Khalid bin
Walid bersama beberapa pasukan berkuda, pada hari
berikutnya, mencoba untuk melewati parit. Namun,
pasukan muslimin terlalu tangguh untuk mereka hadapi.
Mereka hanya berusaha dengan cara mengepung kota.
Di tangah pengepungan, Na'im bin Mas'ud yang
terkenal dengan kecerdikannya memutuskan untuk
masuk Islam. Rasulullah saw. menyuruhnya agar
merahasiakan keimanannya, hingga ia bisa memperdaya
kaum musyrikin dan menebarkan perpecahan di antara
mereka dan kaum Yahudi.
Sama seperti Na'im, adalah Khuzaifah Yamani
menyusup di kegelapan malam ke dalam jajaran musuh
sampai menembus jantung kekuatan mereka. Di
dalamnya ia berusaha mengendurkan tekad perang,
hingga berhasil mematahkan semangat juang mereka.
Sampai pada suatu malam, badai besar berhembus,
belum lagi udara yang semakin dingin menggigilkan.
Tak pelak lagi, semangat pasukan musyrikin menjadi
luluh lantak. Ditambah perselisihan di antara mereka
semakin meluas setelah melihat mengepungan yang tidak
membuahkan hasil.
Sebelum terjadi perkembangan pertempuran yang
mengecewakan, Abu Sufyan segera meninggalkan
medan tempur secara diam-diam di kegelapan malam.
Panglima musyrikin itu beserta pasukannya kembali ke
Makkah dengan perasaan malu dan hina.
Ketika pasukan muslimin terbangun di subuh hari,
mereka menyaksikan lasykar kafir telah meninggalkan
medan pertempuran. Ketika Rasulullah saw.
mendengarkan berita tentang kaburnya musuh, beliau
memerintahkan pasukannya untuk meninggalkan pos-pos
pertahanan dan kembali ke kota.
Nasib Bani Quraizah
Setelah meraih kemenangan gemilang pada perang
Ahzab, Rasulullah saw. membawa pasukannya
mendekati benteng pertahanan Bani Quraizah. Pasukan
Islam memaksa mereka menyerah, setelah mengepung
benteng mereka selama dua puluh lima hari.
Karena menderita kekalahan, Bani Kuraizah memohon
agar dapat meninggalkan kota Madinah. Akan tetapi
Rasulullah saw. menolaknya, sebab jika sampai lolos
meninggalkan kota, mereka akan membuat
persekongkolan lagi dan menciptakan peperangan baru,
sebagaimana Bani Nadzir yang memicu untuk
meletuskan perang Khandaq.
Akhirnya, orang-orang Yahudi yang licik itu harus
kecewa pada keputusan itu. Sa'ad bin Ma'adz
menyampaikan maklumat bahwa orang-orang yang
berkhianat dan membantu pihak musuh selama
pererangan harus dibunuh dan harta kekayaan mereka
harus dirampas.
Perjanjian Hudaibiyah
Derita kekalahan kafir Quraisy dan kedigjayaan kaum
Muslimin, khususnya penaklukan Bani Mustaliq sampai
menyebabkan mereka masuk agama Islam, telah
menggelapkan mata kaum kafir Quraisy.
Pada bulan Dzulqaidah tahun ke-7 Hijriah, Nabi
Muhammad saw. beserta 14.000 lasykar Islam bergerak
menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji.
Kepergian Rasulullah saw. ke tanah suci tidak hanya
untuk keperluan ibadah saja, namun juga untuk
kepentingan politik. Haji beliau kali ini bertujuan untuk
menjadikan status kewarganegaraan kaum muslimin di
semenanjung Arabia menjadi benar-benar diakui.
Dengan demikian, kaum muslimin berhak untuk
bermukim di sepanjang tanah Arab tanpa harus takut
diusir.
Kaum kafir Quraisy menerima kabar bahwa Rasulullah
saw. akan berkunjung ke Baitullah Ka'bah. Mereka
bersumpah di hadapan berhala-berhala untuk tidak
membiarkan beliau memasuki kota Makkah.
Kafir Quraisy mengutus Khalid bin Walid beserta dua
ratus pasukan berkuda untuk menghadang Rasulullah
saw. bersama pasukannya.
Saat itu, Rasulullah saw. telah sampai di daerah
Hudaibiyah melalui jalan berbeda untuk menghindari
pertempuran dan peperangan yang mungkin mengintai
setiap saat. Segera beliau mengutus salah seorang
sahabat untuk mengintai pasukan Quraisy dan
meyakinkan mereka, bahwa Rasulullah saw. beserta
kaum muslimin datang hanya untuk menunaikan ibadah
haji saja. Sahabat itu ditugaskan untuk meyakinkan para
pemimpin Quraisy bahwa kedatangan Rasulullah saw.
kali ini tidak untuk berperang. Namun, mereka malah
berlaku kurang ajar terhadap utusan beliau.
Rasulullah saw. meminta baiat (sumpah setia) kepada
sahabat agar tetap setia dan rela berkorban kepada beliau
di bawah pohon. Ketika hal ini diketahui oleh kafir
Quraisy, mereka sangat geram sekaligus malu, sehingga
diutuslah Suhail sebagai wakil mereka untuk berunding.
Kaum kafir Quraisy tidak menghendaki kaum
muslimin memasuki kota Makkah dan menunaikan
ibadah haji pada tahun ini dan segera pulang ke
Madinah. Apabila mereka mau menunaikan haji pada
tahun depan, kaum muslimin tidak diperbolehkan untuk
membawa senjata. Selama masa haji itu, pihak
Quraisylah yang bertanggung jawab atas keselamatan,
keamanan harta dan jiwa kaum muslimin.
Perjanjian ditandatangani dengan lima butir
kesepakatan, meskipun beberapa orang Islam kecewa.
Puncak kekecewaan mereka tunjukkan dengan keberatan
terhadap keputusan-keputusan Rasulullah saw. Mereka
mengira bahwa penandatanganan perjanjian itu adalah
suatu aib yang memalukan umat Islam, khususnya pada
satu butir kesepakatan yang menyatakan bahwa jika
seorang muslim lari dari Makkah lalu sampai di
Madinah, maka ia akan dipulangkan ke tempat asalnya.
Sebaliknya, orang muslim Madinah yang masuk Makkah
tidak boleh kembali ke Madinah.
Kekecewaan itu sebenarnya tidak berdasar. Mereka
tidak mengerti bahwa keuntungan perjanjian itu
sesungguhnya merupakan awal dari penaklukan kota
Makkah kelak.
4. Perang Khaibar
Pada awal bulan Rabiul Awal tahun ke-7 Hijriah,
Rasulullah saw. beserta 1.600 kaum muslimin bertolak
dari Madinah menuju Khaibar. Lasykar Islam di bawah
komandan beliau menyerang musuh dengan tiba-tiba dan
dengan mudah merebut tanah Raji' yang terletak di
antara Khaibar dan Ghatafan.
Panglima besar laskar Islam Rasulullah saw.
menerapkan strategi militer yang jitu. Sehingga antara
orang-orang Yahudi Khaibar dengan orang-orang Arab
Ghatafan tidak dapat saling membantu satu sama yang
lain.
Laskar Islam mengepung benteng Khaibar pada malam
hari. Mereka mengambil posisi di tempat strategis yang
tersembunyi di balik tanaman palem. Dengan mudah
mereka menguasai lembah Khaibar. Kemudahan ini
berkat keberanian dan ketulusan mereka dalam
berkorban.
Sayangnya, dua lembah strategis yang menjadi markas
kaum Yahudi tidak dapat dikuasai. Kaum Yahudi itu
mempertahankan benteng mereka mati-matian dengan
melepaskan anak-anak panah ke arah pasukan muslimin.
Rasulullah saw. memerintahkan Abu Bakar memimpin
pasukan tempur, namun tidak berhasil menaklukkan
benteng itu. Pada hari kedua, Umar Bin Khatab ditunjuk
sebagai komandan tempur, namun tidak juga berhasil. Di
seberang sana, kaum Yahudi Khaibar terus saja
memperolok kaum muslimin.
Melihat kegagalan kaum muslimin menaklukkan
benteng tersebut, Rasulullah saw. bersabda, "Besok aku
akan memberikan bendera Islam ini kepada orang yang
hanya kembali bila benteng pertahanan Yahudi itu telah
dikuasai".
Seluruh sahabat menantikan fajar tiba untuk
menyaksikan siapa gerangan orang yang beruntung itu.
masing-masing memimpikan menjadi pemegang bendara
esok hari.
Pada pagi harinya, Rasulullah saw. memanggil Ali.
Beliau menyerahkan bendera Islam itu kepadanya dan
menugaskannya untuk menaklukkan lembah Khaibar.
Rasulullah saw. berdoa untuk kesuksesan Ali.
Ali menerima tugas ini dengan penuh semangat. Ia
bersama pasukannya bergerak mendekati pintu gerbang
Khaibar. Pintu gerbang itu dijaga oleh dua saudara yang
gagah berani, Haris dan Marhab. Mereka menyerang
pasukan Ali dengan garang sampai tunggang langgang
menyelamatkan dirinya masing-masing.
Sebagai komandan perang, Ali segera menghadang
kedua bersaudara itu. Dengan kegagahan dan
keperkasaannya, ia mampu menghempaskan kedua orang
Yahudi itu.
Kematian mereka membuat orang-orang Yahudi yang
berada di balik benteng menjadi ketakutan dan panik.
Mereka cepat-cepat menutup pintu gerbang dan
bersembunyi di baliknya. Pasukan muslimin yang
tadinya kocar-kacir melarikan diri, setelah melihat
keunggulan Ali, segera kembali dan bersiaga di belakang
sang komandan. Ali maju mendekati pintu gerbang itu
dan mengangkatnya lepas dari benteng.
Sementara kaum Yahudi tercengang menyaksikan
kekuatan dan keberanian Ali hingga mereka menyerah
takluk, Ali melemparkan pintu itu ke atas parit untuk
dijadikan jembatan yang kemudian dilintasi pasukan
muslimin. Demikianlah mereka berhasil dengan mudah
memasuki dan menduduki Khaibar, benteng kokoh
orang-orang Yahudi itu.
Sama seperti kaum Yahudi, kaum muslimin pun takjub
di hadapan kekuatan Ali. Mereka bertanya-tanya satu
sama lain, bagaimana Ali bisa melakukannya. Tujuh
orang muslim sempat mengangkat pintu itu, namun tidak
sedikitpun bergeser.
Tentang kekuatannya, Ali menuturkan, "Aku tidak
mampu menjebol gerbang itu dengan kekuatan manusia
biasa. Tapi aku melakukannya dengan kekuatan Allah
swt.".
Akhirnya, pasukan muslimin menguasai seluruh
benteng yang ada di sekitar Khaibar dan menaklukkan
orang-orang Yahudi. Sisa-sisa orang Yahudi memohon
kepada Rasulullah saw. untuk diperbolehkan tinggal.
Mereka ingin tetap dapat mengolah tanah tersebut untuk
pertanian dan perkebunan. Mereka berjanji akan
menyumbangkan setengah dari hasil panen itu kepada
kaum muslimin. Beliau mengabulkan permohonan itu.
Tanah Fadak
Berita tentang penaklukan Khaibar terdengar oleh
orang-orang Yahudi yang bermukim di Fadak. Mereka
menjadi sangat risau dan ketakutan. Orang-orang Fadak
itu mengutus wakil mereka untuk bertemu dengan
Rasulullah saw. dengan membawa pesan akan perlunya
dibuat suatu perjanjian. Lalu mereka menyerahkan
separuh wilayah Fadak kepada beliau yang kemudian
dihadiahkannya kepada putrinya, Fatimah agar dapat
dikelola untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya
dan keperluan orang-orang miskin.
Sesudah perang Khaibar, Rasulullah saw. bertolak
menuju Wadi Qura (lembah Qura) yang menjadi pusat
pemukiman Yahudi. Beliau dan pasukan muslimin
mengepung pemukiman itu dan begitu cepat ditaklukkan.
Beliau berjanji untuk mengembalikan tanah Yahudi itu
kepada pemiliknya, dengan syarat bahwa separuh dari
hasil pertanian itu harus diserahkan kepada kaum
muslimin. Hal ini berlaku sebagaimana pengembalian
tanah di lembah Khaibar, yakni separuh hasil pertanian
itu harus diserahkan kepada kaum muslimin.
Perjanjian ini dilakukan untuk mengaktifkan sektor
ekonomi dan mampu menghasilkan kesejahteraan umat
Islam, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri dan
hartanya jika ada seruan perang.
5. Perang Mu'tah
Sebelum meletusnya perang Mu'tah, Rasulullah saw.
mengutus Harits bin Umair kepada penguasa Syiria
dengan maksud mengajaknya menerima Islam. Namun
pihak penguasa berlaku kurang ajar. Mereka menahan
dan membunuh duta Islam itu.
Setelah peristiwa ini, Rasulullah saw. masih mengutus
16 duta Islam (da'i) untuk mengajak penguasa Syiria dan
rakyatnya kepada Islam. Sayangnya, mereka juga
dibunuh. Dari 16 orang duta itu, hanya satu orang yang
mampu meloloskan diri dan kembali ke Madinah.
Sesampainya di Madinah, duta itu segera melapor
kepada Rasulullah saw. Beliau sangat terpukul
mendengar hal itu. Pembantaian terhadap para duta itu
membuat beliau mengeluarkan perintah untuk berjihad.
Beliau menghimpun 3.000 pasukan pada Jumadil Tsani
tahun 8 Hijriah.
Sebelum pasukan muslimin meninggalkan Madinah,
Rasulullah saw. memberikan pengarahan kepada mereka:
"Yang akan memimpin pasukan pertama kali adalah
Ja'far bin Abi Thalib, jika sesuatu menimpanya, maka
tampuk kepemimpinan diserahkan pada Zaid bin
Haritsah. Dan jika terjadi sesuatu pada Zaid, maka
Abdullah bin Rawahah yang menjadi pimpinan kalian.
Dan jika Abdullah bin Rawahah juga menjumpai
kesyahidannya, maka pilihlah komandan di antara
kalian".
Setelah mendapatkan pengarahan dari penglima besar
mereka, berangkatlah pasukan itu di bawah komando
Ja'far bin Abi Thalib. Ketika pasukan muslimin sampai
di dekat kota Ma'an, mereka mendapat berita bahwa
Kaisar Romawi telah mengirim 100.000 pasukannya
ditambah 100.000 orang Arab yang berada di bawah
kekuasaannya.
Perang Yang Tak Seimbang
Lasykar musuh yang berjumlah 200.000 pasukan itu
berhadapan dengan 3.000 pasukan muslimin. Maka
perang pun tak lagi terelakkan. Ja'far bin Abu Talib
bertempur dengan gagah berani sampai darah
penghabisan. Ia gugur sebagai syahid.
Pucuk komando segera diambil oleh Zaid bin Haritsah.
Zaid pun bertempur dengan gagah berani.
Namun, ia pun mati syahid. Setelah gugurnya Zaid,
Pasukan muslimin dipimpin oleh Abdullah bin Rawahah
yang juga berakhir dengan kesyahidannya.
Dengan gugurnya para komandan mereka yang gagah
berani itu, kaum muslimin segera memilih Khalid bin
Walid untuk memimpin pasukan. Khalid segera menarik
pasukannya dari medan pertempuran dan menyelamatkan
prajurit dari medan tempur.
Pada sore harinya, Khalid merencanakan penarikan
seluruh pasukan dari medan pertempuran dan memimpin
mereka bergerak kembali ke Madinah.
Penaklukan Kota Makkah
Penarikan mundur pasukan muslimin dari medan
pertempuran Mu'tah telah membuat kafir Quraisy
semakin berani dan congkak. Mereka berfikir bahwa
kaum muslimin telah kehilangan daya dan kekuatan
tempur. Oleh karena itu, mereka mengkhianati perjanjian
Hudaibiyah. Dengan bantuan sekutu-sekutunya, mereka
menyerang dan membunuh banyak kaum muslimin dari
Bani Thaif.
Abu Sufyan tahu betul bahwa kaum muslimin tidak
akan tinggal diam dan mereka segera mengirimkan
jawaban atas pengkhianatan ini. Abu Sufyan pun
berharap bisa bertemu dengan Rasulullah saw. di
Madinah dan meminta maaf atas aksi tersebut.
Masih di hadapan Rasulullah saw., Abu Sufyan
meminta agar beliau tetap mau memegang perjanjian
Hudaibiyah. Akan tetapi, beliau menampik permintaan
itu, sehingga Abu Sufyan kembali ke Makkah dengan
kecewa.
Segera Rasulullah saw. memerintahkan pasukannya
untuk siaga. Sebanyak 10.000 lasykar muslimin
menyatakan siap sedia untuk mengambil bagian dalam
peperangan selanjutnya. Beliau menugaskan sejumlah
prajurit agar berjaga-jaga di sekeliling kota untuk
mencegah siapa saja yang hendak meninggalkan kota
dan meyebarkan berita kepada kafir Quraisy dalam hal
ini.
Tetapi, seorang pengkhianat keji bernama Hatib
membocorkannya kepada kaum musyrik Makkah.
Dengan dalih risau akan keselamatan keluarganya, Hatib
mengutus seorang kurir wanita untuk menyebarkan
berita ini.
Niat busuknya segera diketahui. Surat yang berisi
bocoran tentang persiapan kaum muslimin berhasil
digeledah. Rasulullah saw. memerintahkan seluruh kaum
muslimin untuk melakukan pemboikotan sosial terhadap
Hathib, si pengkhianat Islam. Sesungguhnya hukuman
boikot itu lebih berat daripada hukuman mati.
Pada hari ke-10 Ramadhan tahun ke-8 H, Rasulullah
saw. memerintahkan pasukannya dan sebagian kaum
muslimin untuk bergerak cepat. Mereka harus sampai di
kota Makkah dalam waktu satu minggu. Beliau beserta
pasukan dan seluruh kaum muslimin yang menyertai
beliau mendirikan tenda di dekat kota Makkah.
Rasulullah saw. memberikan komando kepada
pasukan muslimin untuk berpencar pada malam hari dan
menyalakan api unggun di mana-mana. Pihak musuh
berfikir bahwa sebuah pasukan besar telah tiba dari
Madinah. Musuh pun menjadi ketakutan. Mereka
menyangka bahwa pasukan dalam jumlah raksasa akan
menyerang.
Malam harinya, gurun di sekeliling kota Makkah
menjadi terang benderang dengan nyala api unggun di
mana-mana. Suara riuh dan slogan-slogan kaum
muslimin berkumandang, unta-unta dan kuda-kuda
meringkik. Ketika Abu Sufyan beserta sekelompok
Quraisy menyaksikan hal ini, ia merinding ketakutan. Ia
menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia tidak pernah
menyaksikan pasukan sebesar ini selama hidupnya.
Dari sana, Abu Sufyan menjumpai Abbas bin Abdul
Muthalib untuk meminta pendapatnya. Dengan maksud
untuk berdamai, Abbas membawanya datang untuk
menemui Rasulullah saw., sang panglima tertinggi kaum
muslimin.
Demi kemaslahatan dan kejayaan Islam, Rasulullah
saw. mengatakan kepada Abu Sufyan agar dapat
meyakinkan penduduk kota Makkah, bahwa siapa saja
yang mencari perlindungan hendaknya memasuki rumah
Abu Sufyan. Setelah mendengar pandangan Rasulullah
saw., ia bertolak kembali ke Makkah dengan membawa
ampunan dari beliau.
Sesampainya di Makkah, Abu Sufyan mengingatkan
warga kota bahwa kaum muslimin akan datang dengan
pasukan raksasa. Untuk menghindari pertumpahan darah,
maka sebaiknya mereka menyerah dan membiarkan
kaum muslimin memasuki kota Makkah.
Akhirnya kota Makkah dapat dikuasai dengan damai
tanpa adanya pertumpahan darah.
Pengampunan Umum
Sekelompok kaum muslimin, khususnya para
pengungsi yang pernah diperlakukan secara kejam oleh
Quraisy, berniat menuntut balas terhadap orang-orang
Makkah yang menyiksa dan mengusir mereka dari kota.
Akan tetapi, Rasulullah saw. mengumumkan
"Pengampunan Umum" untuk warga Makkah, bahkan
untuk mereka yang telah melakukan penyiksaan dan
pengusiran terhadap kaum muslimin.
Setelah merobohkan semua patung dan berhala satu
persatu, Rasul saw. memerintahkan Bilal untuk menaiki
Ka'bah dan mengumandangkan gema Tauhid di atasnya:
"Allahu Akbar,
"La ilaha illallah,
"Muhammad rasulullah".
6. Perang Hunain
Setelah kejatuhan pusat kekuatan kaum musyrikin di
tangan kaum muslimin, para penyembah berhala itu tetap
diperbolehkan tinggal di sekeliling Ka'bah. Mereka
merasa malu dan bagitu ketakutan. Oleh karena itu,
mereka mengundang kabilah masing-masing untuk
berkumpul.
Mereka memutuskan bahwa untuk mengalahkan kaum
muslimin, hendaknya mereka bersekutu dalam
menghancurkan pasukan muslimin itu. Dalam pertemuan itu, diputuskanlah kepala kabilah Hawazan sebagai
panglima mereka.
Mendengar berita ihwal pertemuan itu, Rasulullah
saw. mengirimkan seorang mata-mata untuk mengintai
keadaan musuh dan mencari informasi tentang
kesepakatan perang yang ditandatangani oleh kabilah-
kabilah itu. Mata-mata itu berhasil mendapatkan
informasi dan segera melaporkannya kepada beliau.
Persiapan Menjelang Perang Hunain
Mendapatkan berita tentang rencana penyerangan
tersebut, Rasulullah saw. tidak tinggal diam. Panglima
besar kaum muslimin itu segera memerintahkan
pasukannya untuk bersiaga dan bergerak menuju lembah
Hunain. Para pejuang itu bergerak pada 5 Syawal tahun 8
H.
Malik, panglima tentara kafir, mengutus tiga orang
prajuritnya untuk memata-matai pasukan muslimin.
Mereka menyaksikan kehebatan pasukan muslimin dan
melaporkan hasil pengintaiannya itu kepada Malik. Ia
merasa bahwa mereka tidak memiliki daya untuk
menghadapi pasukan muslimin. Ia lalu memerintahkan
pasukannya untuk menaiki bukit yang berada di lembah
itu, sehingga mereka mendapatkan posisi yang strategis.
Dari puncak bukit itu mereka berencana untuk
menyergap jika pasukan musuh terlihat.
Pasukan muslimin tiba di lembah Hunain pada malam
Selasa tanggal 10 Syawal. Pasukan Islam beristirahat di
tempat itu. Rencananya, mereka akan bergerak
memasuki lembah Hunain pada subuh hari.
itu, diputuskanlah kepala kabilah Hawazan sebagai
panglima mereka.
Mendengar berita ihwal pertemuan itu, Rasulullah
saw. mengirimkan seorang mata-mata untuk mengintai
keadaan musuh dan mencari informasi tentang
kesepakatan perang yang ditandatangani oleh kabilah-
kabilah itu. Mata-mata itu berhasil mendapatkan
informasi dan segera melaporkannya kepada beliau.
Persiapan Menjelang Perang Hunain
Mendapatkan berita tentang rencana penyerangan
tersebut, Rasulullah saw. tidak tinggal diam. Panglima
besar kaum muslimin itu segera memerintahkan
pasukannya untuk bersiaga dan bergerak menuju lembah
Hunain. Para pejuang itu bergerak pada 5 Syawal tahun 8
H.
Malik, panglima tentara kafir, mengutus tiga orang
prajuritnya untuk memata-matai pasukan muslimin.
Mereka menyaksikan kehebatan pasukan muslimin dan
melaporkan hasil pengintaiannya itu kepada Malik. Ia
merasa bahwa mereka tidak memiliki daya untuk
menghadapi pasukan muslimin. Ia lalu memerintahkan
pasukannya untuk menaiki bukit yang berada di lembah
itu, sehingga mereka mendapatkan posisi yang strategis.
Dari puncak bukit itu mereka berencana untuk
menyergap jika pasukan musuh terlihat.
Pasukan muslimin tiba di lembah Hunain pada malam
Selasa tanggal 10 Syawal. Pasukan Islam beristirahat di
tempat itu. Rencananya, mereka akan bergerak
memasuki lembah Hunain pada subuh hari.
Pihak musuh yang telah siaga menyambut kedatangan
mereka dengan bersembunyi di balik ilalang. Setelah
melihat musuh menampakkan diri, mereka lalu
menyergap dari empat arah.
Di tengah kegelapan malam, kuda-kuda yang
ditunggangi pasukan muslimin itu membuat kegaduhan.
Kegaduhan ini menjadi ramai oleh sekitar 2.000 muallaf
(muslim baru). Para muallaf itu melarikan diri, dipimpin
oleh Khalid bin Walid. Pelarian diri itu telah membuat
musuh menjadi tambah semangat untuk
menceraiberaikan pasukan muslimin.
Hanya 10 orang sahabat yang bersiaga di samping
Rasulullah saw. Merekalah yang membela beliau dari
ancaman pedang musuh. beliau memerintahkan mereka
untuk lari mencari pertolongan. Abbas berteriak dengan
suara lantang, memanggil sahabat-sahabat yang
melarikan diri itu. Musuh yang pada awalnya meraih
kemenangan itu, lambat laun menjadi lemah akibat
kembalinya pasukan muslimin yang melarikan diri tadi.
Walhasil, benteng pertahanan musuh dihancurkan.
Musuh lari tunggang langgang meninggalkan peralatan
tempur mereka. Rasulullah saw. memerintahkan
beberapa orang sahabat untuk mengejar musuh yang
melarikan diri sehingga mereka menjadi tidak berdaya.
Maksud pengejaran ini adalah agar tidak tersisa lagi
musuh yang bisa melakukan perlawanan militer di
kemudian hari.
Para sahabat yang mengejar musuh itu berhasil
menunaikan tugas mereka. Atas keberhasilan pasukan
muslimin menaklukkan musuh, Rasulullah saw.
kemudian membagikan harta rampasan perang kepada
kaum muslimin.
36
7. Perang Tabuk
Pada bulan Rajab tahun ke-9 H, Rasulullah saw.
menerima laporan bahwa kaum muslimin yang
bermukim di barat daya perbatasan Arabia, mendapat
ancaman dari kekaisaran Romawi dan bermaksud untuk
menyerang wilayah-wilayah Islam.
Setelah mempersiapkan pasukan, Rasulullah saw.
mengumumkan rencananya kepada khalayak ramai. Cara
ini berbeda dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat
sebelumnya. Dahulu, beliau merahasiakan niatnya. Kali
ini beliau memberitahukan kepada khalayak secara
terbuka.
Masyarakat mempersembahkan segala sesuatu yang
diperlukan oleh pasukan muslimin. Mereka dengan
antusias dan penuh semangat mengorbankan harta,
bahkan kaum wanita merelakan simpanan perhiasan
mereka untuk digunakan dalam peperangan.
Makar Kaum Munafik
Bersamaan dengan bergeraknya pasukan muslimin,
orang-orang munafik mulai menebarkan hasutan,
menciptakan semangat anti perang dan menanamkan rasa
takut dalam diri pasukan muslimin akan kehebatan
pasukan Romawi.
Mereka melakukan berbagai cara, di antaranya ialah
membangun sebuah masjid dengan nama "Masjid Dirar"
sebagai pusat penyebaran propaganda anti perang itu.
37
Mereka berharap agar orang-orang tidak ambil bagian
dalam jihad itu.
Syukurlah, berkat kesigapan dan ketegasan, Rasulullah
saw. berhasil menggagalkan persekongkolan orang-orang
munafik itu.
Atas perintah Rasulullah saw, rumah tempat
berkumpulnya orang-orang Yahudi dan kaum munafik
itu dibakar oleh massa. Dengan cara demikian ini,
persekongkolan yang mereka galang berhasil ditumpas.
Persiapan Perang Tabuk
Sebanyak 30.000 pasukan muslimin meninggalkan
kota Madinah. Jumlah pasukan ini adalah yang terbesar
dari yang sebelumnya. Rasulullah saw. sendiri yang
menjadi panglima pasukan itu. Beliau memeriksa
persiapan-persiapan pasukannya. Setelah itu, panglima
muslimin itu berpidato di depan pasukannya.
Beliau menunjuk Ali bin Abi Talib sebagai wali kota
di Madinah selama kepergiannya beserta pasukan
muslimin ke Tabuk.
Mereka tiba di padang Tabuk yang panas membara
setelah menempuh perjalanan sejauh 600 kilometer.
Namun, mereka terkejut setibanya di tempat itu. Mereka
tidak melihat tanda-tanda kedatangan pasukan Romawi.
Sepertinya, pihak musuh telah mengetahui gerakan
pasukan muslimin yang penuh semangat untuk mati
syahid. Pemimpin Romawi memutuskan untuk menarik
mundur pasukannya dari arah utara.
38
Pasukan muslimin berdiam di Tabuk selama 20 hari
sebelum kembali ke Madinah, tanpa terjadi pertempuran
apa pun.
Persekongkolan Kaum Munafik
Sekembalinya dari Tabuk, sekelompok orang munafik
memendam niat jahat terhadap Rasulullah saw. Mereka
bermaksud untuk membunuh panglima orang-orang
pencinta kebenaran itu. Kaum munafik yang ikut serta
dalam perjalanan ke Tabuk itu hanyalah didorong oleh
rasa takut kepada kaum muslimin lainnya.
Mereka hendak menakut-nakuti unta tunggangan
Rasulullah saw. dengan bersembunyi di balik bukit. Bila
beliau terjatuh, mereka mudah membunuhnya. Tapi niat
keji itu tersingkap dan membuat orang-orang munafik
melarikan diri. Pasukan muslimin ingin segera
menghabisi hidup kaum munafik itu, namun Rasulullah
saw. meminta mereka untuk membiarkannya.
Sekembalinya dari Tabuk, Rasulullah saw.
memerintahkan kaum muslimin untuk menggusur Masjid
Dhirar. Perintah ini beliau sampaikan setelah menerima
wahyu dari Allah swt.
Peperangan Tabuk merupakan unjuk kekuatan pasukan
muslimin. Seluruh kaum muslimin mengambil bagian
dalam pertempuran ini.
Melihat kekuatan yang begitu besar, negara-negara
tetangga dan orang-orang kafir menjadi enggan terlibat
dalam persekongkolan untuk merongrong pemerintahan
Islam.
39
Pembersihan Orang-orang Kafir
Hingga tahun ke-9 H, orang-orang kafir masih
menunaikan ibadah Haji sesuai dengan kebiasaan nenek
moyang mereka. Pada tahun yang sama, surat Al-Bara'ah
atau At-Taubah diturunkan.
Rasulullah saw. mempercayakan surat itu kepada Ali
dibacakan di hadapan orang-orang kafir Makkah. Beliau
memerintahkan Ali untuk menyampaikan, "Tidak
diperbolehkan orang-orang kafir memasuki rumah suci
Ka'bah, terhitung sejak hari ini. Dan mulai hari ini, tidak
diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah di sekitar
Ka'bah dengan telanjang".
Sesuai perintah Rasulullah saw., Ali berangkat menuju
Makkah dan membacakan surat Al-Bara'ah yang baru
saja diturunkan, dan ditujukan kepada orang-orang kafir
itu agar menghentikan kemusyrikan mereka.
Di tengah para jemaah haji di sana, Ali menyerukan,
"Wahai sekalian manusia, tidak akan ada orang kafir
yang masuk surga, tidak akan ada orang musyrik yang
berhaji setelah tahun ini, tidak akan ada orang telanjang
yang bertawaf, dan siapa saja yang punya perjanjian
damai dengan Rasulullah, maka ia punya kesempatan
sampai berakhirnya masa perjanjian itu".
40
Mubahalah (Saling Memohon Kutukan dari Allah
swt.)
Rasulullah saw. mulai mengirimkan surat kepada
penguasa-penguasa yang ada di dunia. Beliau
mengirimkan surat kepada keuskupan di Najran dan
mengajak orang-orang Nasrani yang ada di sana untuk
memeluk Islam. Bila menolak, mereka diharuskan untuk
membayar jizyah (pajak) sebagai bentuk dukungan
mereka kepada pemerintahan Islam.
Sang uskup telah membaca ihwal kedatangan seorang
nabi baru setelah Isa putra Maryam as. Dia juga
mengetahui kedatangannya melalui Kitab Suci Nasrani
(Injil). Kemudian dia segera mengirimkan utusan ke
Madinah untuk membuktikan kebenaran berita itu.
Sesampainya di Madinah, mereka memulai dialog
dengan Rasulullah saw. Pada kesempatan itu, beliau
menjelaskan ajaran-ajaran Islam yang lurus, sementara
mereka menanyakan ihwal Nabi Isa Al-Masih as.,
"Apakah ia anak Allah ataukah anak Maryam?
Rasul saw. menjawab, "Sesungguhnya Isa Al-Masih
tidak lain adalah rasul Allah, sama seperti rasul-rasul
yang telah mendahuluinya, dan ibunya adalah wanita
tepercaya. Mereka berdua memakan makanan" (QS. Al-
Imran:59), "Dan ihwal Isa di sisi Allah seperti Adam
yang telah diciptakan Allah dari tanah, lalu berkata
kepadanya, 'Jadilah', maka terjadilah" (QS. Al-Imran:
61).
Namun, utusan Najran sebanyak 60 orang itu tetap saja
menolak untuk beriman kepada Rasul saw.
41
Malaikat Jibril as. turun menyampaikan wahyu dari
Yang Maha Kuasa kepada Nabi saw. Dalam wahyu
tersebut, Allah menyerukan beliau dan orang-orang
Najran untuk bermubahalah, yakni memohon kepada
Allah swt. agar mengutuk siapa yang sebenarnya
berdusta.
Ketika saat mubahalah itu tiba, Rasulullah saw. hanya
membawa empat orang keluarganya dari Ahlul Bait: Ali,
Fatimah, Hasan dan Husein. Sewaktu orang-orang
Nasrani itu melihat beliau datang beserta rombongan
pilihannya, pemimpin Nasrani itu berkata, "Demi Tuhan!
Saya meyaksikan wajah-wajah mereka, yang jika mereka
(orang-orang Nasrani) mengutuk Nabi bersama
rombongannya, maka gurun sahara itu akan menjadi
neraka dan akan meluas sampai ke wilayah Najran.
Orang-orang Nasrani akan musnah oleh siksaan dan azab
ini".
Akhirnya, mereka setuju untuk membayar pajak.
Diputuskan bahwa orang-orang Nasrani akan membayar
sebanyak 2.000 Hullas (jubah) dan 30 busur panah
kepada kaum muslimin.
42
Haji Wada' (Perpisahan)
Pada 25 Zulhijah tahun ke-10 Hijriah, Nabi saw.
mengumumkan akan menunaikan haji tahun itu Beliau
berpesan, bahwa siapa saja yang mau menyertainya
segera mempersiapkan diri.
Berita ini menciptakan semangat dan kegembiraan di
kalangan kaum muslimin. Bersama Nabi saw., mereka
mempersiapkan diri menyambut pesan beliau itu. Beliau
menunjuk Abu Dujana sebagai wakil beliau di Madinah.
Setelah itu, beserta sahabat-sahabat lainnya beliau
bergerak menuju Makkah.
Rasulullah saw. memulai pelaksanaan rukun ibadah
haji di Zulhulaifah dan melantunkan Labbaik. Dari
Zulhulaifah beliau bertolak menuju Makkah.
Setelah sepuluh hari tiba di Makkah, Rasulullah saw.
memasuki Masjidil Haram dan melaksanakan rukun-
rukun haji lainnya. Hari berikutnya, beliau
menyampaikan pidato di Mina. Beliau bersabda, "Kita
membutuhkan kemapanan dalam pemerintahan Islam".
43
Ghadir Khum
Selekas menunaikan ibadah haji, tepatnya pada hari
Kamis, 18 Zulhijah, Rasul saw. tiba di dekat ladang
Juhfa. Pada saat itu, Malaikat Jibril as. menyampaikan
wahyu dari Tuhan yang harus beliau sampaikan. Segera
Rasulullah saw. mengumpulkan para sahabat dengan
mengatakan bahwa beliau akan mengumumkan suatu
pesan yang sangat penting.
Ratusan jamaah Haji berkumpul pada pelaksanaan
acara pidato Rasulullah saw. Telinga mereka dipasang
baik-baik untuk mendengarkan pesan yang akan
disampaikan beliau, "Segala puji dan puja bagi Allah
Yang Maha Kuasa. Hanya kepada-Nya kita meminta
pertolongan dan keimanan, Dialah tempat tumpuan hajat
manusia. Aku (Muhammad saw.) bersaksi bahwa tidak
ada Tuhan selain Allah. Dan Muhammad adalah hamba
dan utusan-Nya.
"Wahai kaum muslimin! aku (Muhammad) segera
meninggalkan kalian semua dan kutinggalkan dua wasiat
yang berharga kepada kalian, yaitu Al-Qur'an dan Ahlul
Baitku. Keduanya tidak akan terpisah satu sama lain
sampai kalian menjumpaiku di telaga Kautsar (pada Hari
Pengadilan). Oleh karena itu, jagalah mereka dan jangan
kalian tinggalkan. Jika kalian tinggalkan wasiat ini, maka
kalian akan binasa."
Kemudian beliau meraih tangan Ali bin Abi Thalib
dan mengangkatnya seraya bersabda: "Barang siapa yang
menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah
pemimpin kalian sepeninggalku. Ya Allah! cintailah
orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah orang-
orang yang memusuhi Ali. Lindungilah orang-orang
yang melindungi Ali dan binasakanlah orang-orang yang
membinasakan Ali".
Detik-detik Terakhir
Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan itu,
Rasulullah saw. jatuh sakit. Sekelompok orang
memanfaatkan keadaan, dan nabi-nabi palsu pun
bermunculan. Setelah Rasulullah saw. mendengar berita
ini, beliau memerintahkan untuk memerangi mereka.
Suatu hari, Nabi saw. yang dalam keadaan payah
dibantu oleh Ali bin Abi Thalib guna berziarah ke
kuburan sahabat-sahabatnya yang telah gugur di
pekuburan Baqi. Setelah itu, beliau meminta Ali untuk
membawanya pulang.
Hari demi hari berlalu, sakit Rasul saw. bertambah
serius dan parah, hingga insan kamil itu menghembuskan
nafasnya yang terakhir di pangkuan Ali. Manusia suci itu
telah kembali menghadap kekasihnya Yang Mahakasih
pada hari Senin 28 Safar tahun ke-11 H. Mangkatnya
beliau menyebabkan dunia Islam berkabung dan
berduka.[]
Mutiara Hadis Rasulullah saw.
1. "Seburuk-buruk manusia di hadapan Allah swt.
adalah seorang alim yang tidak mengamalkan
ilmunya dan tidak mengambil manfaat dari ilmu
yang dimikinya".
2. "Semulia-mulia rumah adalah rumah yang di
dalamnya anak-anak yatim disantuni dengan kasih
sayang dan cinta".
3. "Orang-orang yang beriman pada Allah swt, Hari
Akhir dan janji-janji Allah swt. hendaknya
menunaikan amanat dan janjinya".
4. "Tatapan seorang anak kepada orang tuanya karena
kasih sayang adalah ibadah".
5. "Sahabat yang berbudi luhur dan mulia sungguh
lebih berharga daripada harta benda".


0 Komentar